Sutradara film dokumenter Dandhy Laksono meminta masyarakat luas untuk menahan diri dan tidak menghakimi tokoh adat perempuan Papua, Yasinta Moiwen, di media sosial pada Senin, 25 Mei 2026.
Langkah tersebut diambil Dandhy guna merespons gejolak publik setelah Yasinta mengaku tidak memperoleh penjelasan mendalam mengenai pemanfaatan rekaman dirinya dalam film berjudul Pesta Babi, sebagaimana dilansir dari Suara.
Yasinta Moiwen tampil memberikan penjelasan mengenai persoalan tanah adat di Papua dalam dokumenter tersebut, namun belakangan ia menyatakan tidak mengetahui bahwa rekaman itu akan ditayangkan dalam film.
Melalui pernyataan resmi di akun Instagram pribadinya, Dandhy Laksono menegaskan bahwa masyarakat luar tidak mengetahui dinamika riil yang sedang dihadapi oleh tokoh adat perempuan tersebut.
ÔÇ£Kawan-kawan semua, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami Mama Yasinta Moiwen di pedalaman Papua sana,ÔÇØ ujar Dandhy Laksono, Sutradara Film Pesta Babi.
Dandhy juga menekankan pentingnya menghormati keputusan setiap individu serta mengimbau warganet agar lebih bijak dalam memberikan komentar.
ÔÇ£Apapun yang muncul di media sosial, sepertinya kita perlu menahan diri untuk tidak menghakimi beliau. Bahkan jika semua yang disampaikan murni atas kehendak sendiri, bukankah setiap orang berhak membuat pilihan,ÔÇØ kata Dandhy Laksono, Sutradara Film Pesta Babi.
Reaksi netizen di kolom komentar unggahan tersebut mayoritas sepakat dengan pandangan Dandhy, bahkan beberapa di antaranya mengindikasikan adanya tekanan emosional atau intimidasi yang kemungkinan dialami Yasinta.
ÔÇ£Kita yang sudah sadar jangan menghakimi Mama Yasinta. Saya yakin, intimidasi padanya sangat besar. Mari kita mendoakan beliau, agar segala kesulitan yang dihadapinya segera berlalu,ÔÇØ kata salah satu netizen.
Warganet lain juga memberikan dukungan moral kepada sutradara dan menilai bahwa pengakuan tersebut tidak mendegradasi substansi penting yang disuarakan dalam dokumenter.
ÔÇ£Kaka @dandhy_laksono pernyataan Mama Y.M tidak mengurangi isi dari film tersebut. Kami tahu ada sesuatu dengan negara ini ketika boroknya dicungkil. Tetap semangat, semesta melindungi mu dan Allahku bersamamu selalu,ÔÇØ tulis netizen lainnya.
Film Pesta Babi sendiri berfokus pada dinamika kehidupan masyarakat adat Papua, seperti suku Marind, suku Yei, dan komunitas Awyu yang berjuang mempertahankan ruang hidup mereka.
Dokumenter ini memotret implikasi dari pembukaan hutan berskala masif untuk proyek pangan dan bioenergi yang dinilai mereduksi wilayah adat, sumber pangan, hingga identitas kebudayaan lokal.
Konflik agraria, pengamanan proyek investasi oleh aparat, tekanan terhadap penolak pelepasan tanah, serta simbolisasi perlawanan lewat pemasangan salib merah menjadi potret kompleksitas yang dihadirkan dalam karya tersebut.