Film dokumenter Pesta Babi mendokumentasikan gerakan perlawanan masyarakat adat di Papua Selatan terhadap proyek strategis nasional yang mengancam tanah ulayat mereka. Sinema investigatif ini menyoroti dampak nyata ekspansi perkebunan terhadap kelestarian lingkungan sekaligus memicu perdebatan nasional mengenai keadilan bagi kelompok masyarakat adat.
Dikutip dari Suara, sinema ini mengangkat isu deforestasi skala besar di Papua Selatan akibat perluasan perkebunan tebu untuk bioetanol, kelapa sawit, dan proyek food estate. Melalui sudut pandang masyarakat adat Marind, Yei, Awyu, dan Muyu, karya ini memperlihatkan perjuangan mempertahankan hutan, sungai, dan pangan tradisional di tengah keterlibatan militer dan jaringan kekuasaan.
Sutradara sekaligus produser utama, Dandhy Dwi Laksono, bekerja sama dengan antropolog Cypri Paju Dale dalam memproduksi karya ini. Kolaborasi berdurasi empat tahun tersebut turut melibatkan Watchdoc, Jubi Media, Ekspedisi Indonesia Baru, serta Greenpeace guna mengumpulkan fakta lapangan di Papua.
Dandhy Dwi Laksono yang lahir pada 29 Juni 1976 di Lumajang, Jawa Timur, kini menginjak usia 50 tahun pada 2026. Sarjana Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini mendirikan Watchdoc Documentary Maker pada 2009 untuk fokus pada isu lingkungan dan hak asasi manusia.
Sebelumnya, Dandhy telah melahirkan sejumlah karya yang memicu diskusi publik, seperti Sexy Killers pada 2019 dan Dirty Vote pada 2024. Dalam pembuatan Pesta Babi, proses pengumpulan data menghadapi berbagai tantangan keamanan serta risiko personal yang tinggi.
Perspektif Akademis dari Flores
Rekan kolaborasinya, Cypri Jehan Paju Dale, merupakan seorang antropolog sosial asal Flores dengan rekam jejak akademik yang kuat. Ia meraih gelar PhD dari Institute of Social Anthropology, University of Bern, Swiss, pada 2018 dengan fokus riset mengenai West Papua.
Cypri juga pernah menjadi post-doctoral fellow di Center for Southeast Asian Studies, Kyoto University pada kurun waktu 2020 hingga 2022. Pengalamannya di lembaga swadaya masyarakat Sunspirit for Justice and Peace memperkuat analisisnya mengenai konflik agraria dan kolonialisme modern.
Kombinasi antara kekuatan narasi visual Dandhy dan kedalaman analisis etnografis Cypri memberi warna tersendiri pada dokumenter ini. Meski beberapa agenda pemutaran film sempat dibubarkan oleh pihak tertentu, insiden tersebut justru memicu lonjakan minat publik untuk menyaksikan realitas di ujung timur Indonesia.