Kenaikan Harga Pertamax Turbo Ancam Performa Mesin Kompresi Tinggi

Kenaikan Harga Pertamax Turbo Ancam Performa Mesin Kompresi Tinggi
Foto: Ilustrasi Kenaikan Harga Pertamax Turbo Ancam Performa Mesin Kompresi Tinggi.

PT Pertamina resmi menaikkan harga bahan bakar minyak nonsubsidi jenis Pertamax Turbo menjadi Rp 19.900 per liter mulai Senin, 4 Mei 2026. Penyesuaian harga dari sebelumnya Rp 19.400 ini memicu potensi pemilik motor berpindah ke BBM beroktan lebih rendah.

Penggunaan bahan bakar dengan oktan di bawah spesifikasi pabrikan sangat berisiko bagi motor yang memiliki rasio kompresi mesin di atas 12:1. Dilansir dari Otomotif, ketidaksesuaian oktan ini akan mengakibatkan proses pembakaran di dalam ruang mesin menjadi tidak sempurna.

Ferry Nurul Fajar, Technical & Service Education PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), memaparkan bahwa mesin kompresi tinggi membutuhkan oktan tinggi untuk mencegah pembakaran dini. Jika dipaksakan, bahan bakar mentah akan gagal terbakar secara optimal.

"Bahan bakar jadi sulit terbakar, bahkan saat waktu pengapian. Efeknya emisi HC (Hidrokarbon) tinggi, banyak bahan bakar mentah tidak terbakar sempurna. Lalu juga fuel dilution, bahan bakar tercampur oli mesin," ujar Ferry Nurul Fajar, Technical & Service Education PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM).

Dampak yang ditimbulkan pada mesin satu silinder cenderung berbeda dengan mesin multi-silinder. Pada mesin satu silinder, fenomena afterburn sering terjadi di mana sisa bahan bakar justru meledak pada saluran pembuangan atau knalpot.

"Kalau untuk motor satu silinder enggak begitu terasa (penurunan performa). Hampir sama saja, cuma emisi HC tinggi. Bahkan ada fenomena afterburn, bensin mentah terbakar di exhaust (knalpot)," ucap Ferry Nurul Fajar, Technical & Service Education PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM).

Bagi pemilik kendaraan dengan mesin dua silinder atau lebih, penurunan kualitas bahan bakar akan langsung memengaruhi kenyamanan berkendara. Selain akselerasi yang menjadi tidak responsif, konsumsi bahan bakar justru akan menjadi lebih boros dari biasanya.

"Kalau multi-silinder atau mesinnya dua silinder ke atas, karena pembakaran tidak optimal, pengaruh ke akselerasi yang kurang responsif. Bahan bakar juga jadi lebih boros," kata Ferry Nurul Fajar, Technical & Service Education PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM).

Artikel terkait

Rekomendasi