Mantan penggawa Persib Bandung, Daisuke Sato, akhirnya memberikan pernyataan resmi terkait polemik hukuman larangan transfer yang dijatuhkan FIFA kepada eks klubnya. Pemain asal Filipina tersebut merasa perlu meluruskan berbagai opini yang berkembang di tengah masyarakat sepak bola Indonesia.
Sato menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya setelah namanya terus dikaitkan sebagai pemicu utama sanksi tersebut. Melalui klarifikasi ini, ia berharap tidak ada lagi simpang siur mengenai keterlibatannya dalam daftar hukuman FIFA Registration Ban List.
Penjelasan Terbuka Daisuke Sato Terkait Sanksi FIFA
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @daisukesato, pada Sabtu (30/5/2026), pemain berusia 31 tahun tersebut menyampaikan poin-poin penting. Ia menyoroti perbincangan publik yang belakangan ini menyudutkan dirinya terkait pembatasan pendaftaran pemain baru untuk tim Maung Bandung.
Poin utama klarifikasi yang disampaikan oleh Daisuke Sato adalah:
- Masalah hukum ini bukanlah laporan baru, melainkan kelanjutan dari perselisihan kontrak lama.
- Sengketa terjadi setelah kontrak kerjanya diputus secara sepihak oleh Persib Bandung pada tahun 2023.
- Keputusan FIFA merupakan konsekuensi dari proses hukum di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) yang sudah inkrah.
- Adanya upaya dari pihak klub untuk merahasiakan detail putusan namun ditolak demi transparansi.
Sato menegaskan bahwa langkah hukum yang ia ambil merupakan hak profesional seorang atlet. Ia menilai situasi kontraktual saat itu tidak memberinya pilihan lain selain mencari keadilan melalui otoritas hukum olahraga internasional.
Kronologi Sengketa Kontrak Hingga Putusan CAS
Konflik ini bermula ketika Persib Bandung melakukan perombakan besar-besaran pada komposisi pemain asing di tengah musim BRI Liga 1 2023/24. Akibat kebijakan tersebut, Daisuke Sato harus merelakan posisinya dan kontraknya pun berakhir lebih cepat dari kesepakatan awal.
Perselisihan ini kemudian dibawa ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) setelah tidak ditemukan titik temu antara kedua pihak. Persib sempat mengajukan keberatan secara resmi, namun proses hukum tetap berjalan hingga membuahkan hasil akhir yang memenangkan pihak Sato.
Berikut adalah ringkasan data terkait putusan hukum antara Persib Bandung dan Daisuke Sato:
| Aspek Putusan | Detail Informasi |
|---|---|
| Waktu Putusan CAS | Maret 2026 |
| Status Gugatan Persib | Ditolak oleh Pengadilan CAS |
| Kewajiban Pembayaran | Rp2,7 Miliar plus bunga 5 persen |
| Alasan Sanksi FIFA | Gagal memenuhi kewajiban dalam batas waktu |
Data di atas menunjukkan bahwa sanksi larangan transfer bukan muncul tiba-tiba karena laporan baru. FIFA menjatuhkan hukuman tersebut secara otomatis karena klub dianggap belum menyelesaikan kewajiban finansial sesuai tenggat waktu yang ditetapkan dalam putusan CAS.
Upaya Penutupan Identitas dalam Publikasi Putusan
Sato juga mengungkapkan sebuah fakta menarik mengenai proses publikasi hasil sidang di CAS. Menurut keterangannya, manajemen Persib Bandung sempat mengajukan permintaan khusus agar nama pemain dan klub tidak dicantumkan dalam dokumen publikasi resmi.
Alasan yang diajukan oleh pihak klub adalah kekhawatiran mengenai dampak negatif terhadap reputasi dan kehormatan institusi. Namun, pihak Sato secara tegas menolak permintaan tersebut dengan prinsip bahwa transparansi dalam hukum olahraga sangatlah krusial.
Ia meyakini bahwa keterbukaan informasi adalah bagian dari profesionalitas yang harus dijunjung tinggi. Dengan demikian, publik dapat mengetahui secara jelas bagaimana sengketa ini diselesaikan tanpa ada fakta yang ditutup-tutupi.
Menepis Sentimen Negatif dengan Pendukung
Daisuke Sato menekankan bahwa tindakan hukum yang ia lakukan murni bersifat profesional dan administratif. Ia memastikan tidak ada rasa benci atau sentimen pribadi terhadap Persib Bandung sebagai sebuah klub maupun terhadap pendukung setianya, Bobotoh.
Mantan pemain Ratchaburi FC ini menyatakan tetap menaruh rasa hormat yang mendalam kepada sejarah besar klub dan rekan-rekan setimnya. Baginya, sepak bola Indonesia telah menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya yang selalu ia kenang secara positif.
Sato meminta kepada publik dan para suporter untuk melihat kronologi masalah ini secara utuh sebelum melontarkan kritik. Ia tidak ingin dianggap sengaja merugikan klub, karena tujuannya hanyalah memastikan hak-haknya sebagai pemain profesional dihormati dan dipenuhi.
Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan apresiasi yang tulus kepada tim hukumnya, Pedro Macieirinha dan JMPM – Sociedade de Advogados. Dukungan dari tim hukum tersebut dianggap sangat berarti dalam mendampinginya melalui proses panjang selama hampir tiga tahun terakhir.
Sato menutup klarifikasinya dengan menyatakan rasa syukur atas kesempatan yang pernah ia miliki di Indonesia. Meskipun harus berpisah melalui jalur hukum, ia tetap mengharapkan yang terbaik bagi perkembangan sepak bola tanah air dan Persib Bandung di masa depan.