Kualitas embrio menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan program kehamilan melalui metode Fertilisasi in Vitro (IVF) atau bayi tabung. Hal tersebut mendorong imbauan mengenai pentingnya asupan nutrisi yang tepat dari konsumsi daging merah secara rutin guna meningkatkan kualitas embrio secara signifikan, seperti dilansir dari Media Indonesia pada Kamis (28/5).
Pengaturan pola makan ini disarankan untuk dilakukan setidaknya dua minggu hingga dua bulan sebelum pasien memulai perawatan fertilitas. Pihak pria maupun wanita diwajibkan memperhatikan asupan makanan karena nutrisi ini tidak hanya memengaruhi sel telur, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas sperma.
Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG, Subsp.F.E.R., memberikan penjelasan mengenai pentingnya kandungan mineral di dalam asupan tersebut.
ÔÇ£Protein itu sangat dibutuhkan. Kalau di dalam fertilisasi in vitro, mineral dan zinc itu sangat penting untuk pembuahan, kalsium juga sangat penting,ÔÇØ ujar Prof. Budi.
Dokter juga akan menyesuaikan kebutuhan protein, kalsium, zinc, dan mineral berdasarkan kondisi spesifik pasien, terutama bagi yang memiliki riwayat kegagalan pembuahan sebelumnya. Di sisi lain, berat badan ideal juga wajib dijaga karena kondisi tubuh yang terlalu obesitas maupun terlalu langsing dinilai kurang baik untuk kualitas sel telur.
Peringatan mengenai batasan konsumsi kemudian disampaikan oleh dokter spesialis kandungan subspesialis fertilitas, Dr. dr. Gita Pratama, Sp. OG, Subsp. F.E.R. Ia mengingatkan agar konsumsi daging merah tidak dilakukan secara berlebihan, khususnya bagi pasien yang memiliki riwayat endometriosis.
ÔÇ£Pasien dengan endometriosis memiliki kecenderungan mengalami peningkatan faktor inflamasi (peradangan) jika mengonsumsi daging merah terlalu banyak,ÔÇØ jelas dr. Gita.
Sebagai solusi, kombinasi antara protein hewani seperti ayam, ikan, dan telur dengan protein nabati berupa tempe serta tahu sangat disarankan. Selain itu, asupan serat yang cukup juga harus dipenuhi demi mencegah terjadinya abnormalitas pada usus yang dapat memicu zat inflamasi pencegah optimalnya kualitas sel telur dan sperma.
Langkah pencegahan terakhir berkaitan dengan metode pengolahan makanan, di mana para pakar melarang daging diolah dengan cara dibakar atau digoreng hingga kering (deep fried). Aturan ini diterapkan demi menjaga kualitas DNA agar tidak rusak atau terpecah-pecah saat proses pembuahan berlangsung.
| Komponen Nutrisi | Manfaat untuk Fertilitas |
|---|---|
| Protein (Daging Merah, Ayam, Ikan) | Meningkatkan kualitas embrio, sel telur, dan sperma. |
| Zinc & Mineral | Sangat penting untuk proses pembuahan yang sukses. |
| Kalsium | Mendukung kesehatan reproduksi secara umum. |
| Serat (Fiber) | Mencegah inflamasi dan menjaga kesehatan usus. |
| Protein Nabati (Tempe, Tahu) | Sebagai penyeimbang asupan protein hewani. |