Crystal Palace Juarai Kompetisi Eropa Pertama Usai Tekuk RB Leipzig

Crystal Palace Juarai Kompetisi Eropa Pertama Usai Tekuk RB Leipzig
Foto: Ilustrasi Crystal Palace Juarai Kompetisi Eropa Pertama Usai Tekuk RB Leipzig.

Sejarah baru tercipta bagi sepak bola Inggris setelah Crystal Palace berhasil memastikan diri sebagai kampiun di panggung Eropa untuk pertama kalinya. Klub asal London Selatan tersebut mengunci gelar juara setelah menumbangkan wakil Jerman, RB Leipzig.

Gol tunggal Jean-Philippe Mateta pada babak kedua menjadi penentu kemenangan dramatis Crystal Palace atas RB Leipzig dengan skor akhir 1-0. Seperti dikutip dari Suara, pertandingan final ini sekaligus menandai pencapaian tertinggi klub di level internasional.

Keberhasilan ini menjadi penawar kekecewaan bagi The Eagles setelah musim lalu hak mereka berlaga di kompetisi Eropa dicabut akibat sanksi pelanggaran aturan kepemilikan multiklub oleh UEFA.

Laga ini juga menjadi momen perpisahan bagi sang manajer, Oliver Glasner, yang telah memutuskan mundur dari posisinya sejak awal tahun ini. Juru taktik berusia 51 tahun tersebut resmi menyudahi masa baktinya dengan catatan sejarah emas.

"I bahkan tidak percaya ini adalah pertandingan terakhir saya. Saya mengambil keputusan ini [untuk meninggalkan Palace]. Ini adalah bab yang bagus untuk dibaca di buku Crystal Palace, tetapi bab-bab lain akan menyusul," ujar Glasner selepas pertandingan dikutip dari ESPN, Kamis (28/5/2026).

"Saya katakan kepada para pemain, ambillah sekarang apa yang layak kalian dapatkan setelah memenangkan Piala FA. Itu [Liga Europa] tertunda satu tahun. Klub, penggemar, dan pemain mendapatkan apa yang layak mereka dapatkan. Terkadang, Anda harus mengambil jalan memutar, dan sekarang Crystal Palace berada di tempat yang seharusnya."

Glasner yang menukangi klub sejak 2024 sukses mempersembahkan dua trofi mayor selama dua tahun kepemimpinannya melatih di Selhurst Park melalui penerapan kedisiplinan yang ketat.

"I hanya membimbing kelompok pemain ini dan staf dan saya mendukung mereka dan saya berkata, 'Sungguh, ini bukan karena keyakinan 100% saya' Saya tidak bisa berbuat apa-apa [tanpa para pemain]."

"I bisa saja menjadi pesulap terbaik [tetapi] itu tidak akan berhasil tanpa para pemain. Jadi, semua pemain pantas menerima semua pujian karena mereka harus mendengarkan, mereka harus mempercayai saya dan diri saya sendiri serta staf, tentu saja."

Ketegasan Glasner dalam melatih diakui menjadi kunci konsistensi tim, di mana sang pelatih selalu menuntut fokus penuh tanpa adanya penurunan standar performa sedikit pun.

"Mereka harus bekerja sangat keras dan saya pikir setiap pemain akan memberi tahu Anda bahwa saya sangat menuntut. Jadi jika hal-hal tidak berjalan seperti yang saya pikirkan, atau jika pemain mungkin menurunkan standar sebesar satu atau 2%, saya tidak bisa menerimanya."

Ketangguhan mentalitas Crystal Palace juga dibuktikan oleh gelandang muda Adam Wharton yang rela bertanding menggunakan penahan rasa sakit demi membantu timnya memenangkan trofi juara.

Wharton sempat diragukan tampil akibat cedera, namun ia justru menjadi kreator utama lahirnya gol tunggal setelah sepakan kerasnya membentur kiper lawan.

"Ada banyak keraguan [apakah saya akan bermain]. Hampir sepanjang waktu kaki saya hanya dimasukkan ke dalam kotak es selama beberapa hari terakhir, hanya mencoba meredakan pembengkakan dan semacamnya."

Glasner menutup kebersamaannya dengan sepak bola Inggris melalui monolog hangat bersama para awak media dalam konferensi pers terakhir yang digelar di Leipzig.

"Konferensi pers [terakhir] dan saya ingin berterima kasih kepada Anda, terutama semua [jurnalis] Inggris yang mungkin hadir di semua 120 konferensi pers."

Artikel terkait

Rekomendasi