Pemerintah mulai menempatkan pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai opsi strategis untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang mencapai 80 persen kebutuhan nasional. Langkah ini bertujuan memperluas akses energi bagi wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa gas bumi.
Dilansir dari Money, upaya penguatan ekosistem energi ini melibatkan PGN melalui berbagai layanan distribusi gas untuk sektor industri hingga transportasi darat. Perusahaan berkomitmen mengoptimalkan sumber energi domestik yang ramah lingkungan sebagai jembatan keterbatasan infrastruktur.
"Sebagai bagian dari ekosistem energi nasional, PGN siap berperan aktif dalam pengembangan CNG sebagai solusi energi yang efisien, aman, dan ramah lingkungan," ujar Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman.
Hingga September 2025, PGN melalui PT Gagas Energi Indonesia telah melayani 600 pelanggan Gaslink dan mengoperasikan 14 SPBG. Penyaluran bahan bakar gas untuk transportasi tercatat mencapai 1,63 BBTUD, sementara sektor industri dan komersial mencapai 10,85 BBTUD.
"PGN terus mengembangkan infrastruktur untuk menyalurkan CNG ke pelanggan yang belum terhubung langsung dengan pipa gas bumi," kata Fajriyah Usman.
Fajriyah menjelaskan bahwa ekspansi infrastruktur ini terus berjalan, termasuk pembangunan Mother Station CNG di Medan dengan kapasitas 1 MMSCFD. Fasilitas tersebut diproyeksikan memenuhi kebutuhan energi di wilayah Sumatera Utara.
"CNG menjadi solusi agar semakin banyak masyarakat merasakan manfaat energi yang efisien, praktis, dan ramah lingkungan," lanjut Fajriyah Usman.
Pihak manajemen juga menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang dalam mendukung kebijakan energi hijau di Indonesia.
"Ia menambahkan, pemanfaatan CNG juga mendukung target lingkungan seperti Net Zero Emission," ujar Fajriyah Usman.
Anggota Komisi XII DPR RI Yulisman memberikan dukungan terhadap langkah tersebut pada Selasa (29/4/2026). Ia memandang pemanfaatan gas domestik dapat mengurangi tekanan subsidi energi pada APBN.
"CNG ini bisa menjadi solusi transisi yang realistis. Kita punya sumber gas domestik yang cukup besar, tinggal bagaimana kita distribusikan secara efektif ke masyarakat dan sektor usaha," ujar Yulisman.
Yulisman menekankan bahwa skema pipa virtual atau virtual pipeline sangat potensial diterapkan pada daerah-daerah penghasil gas seperti Riau dan Jambi yang belum memiliki akses pipa.
"Daerah-daerah penghasil gas seperti Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan itu sangat potensial," kata Yulisman.
Menurutnya, integrasi distribusi gas harus mencakup berbagai skala ekonomi mulai dari tingkat rumah tangga hingga industri besar.
"Di sana kita bisa mulai dari skala industri, UMKM, hingga perumahan melalui skema CNG atau yang dikenal sebagai virtual pipeline," lanjut Yulisman.
Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA) Marjolijn Wajong menilai gas sebagai energi fosil yang paling bersih untuk mendukung masa peralihan. Hal ini disampaikan dalam sebuah diskusi pada Rabu (7/1/2025) mengenai relevansi migas di era energi terbarukan.
"Pada masa transisi ini, gas sangat dibutuhkan karena jauh lebih bersih daripada batu bara," ujar Marjolijn Wajong.
Ia menyebutkan bahwa ketersediaan cadangan gas Indonesia yang mencapai 55.852 BSCF per Januari 2025 harus diikuti dengan perencanaan infrastruktur yang matang.
"Beruntungnya, potensi remaining (cadangan) Indonesia memang lebih banyak gas," lanjut Marjolijn Wajong.
Marjolijn mengingatkan bahwa aspek transportasi dan nilai ekonomi menjadi faktor penentu dalam keberhasilan eksplorasi gas di masa depan.
"Kalau mau eksplorasi gas, sudah harus lihat dulu nanti mau dibawa ke mana, transportasinya pakai apa, ekonomis atau tidak," kata Marjolijn Wajong.
Ketersediaan infrastruktur dan integrasi kebijakan antarlembaga dianggap krusial untuk memastikan pasokan energi dalam negeri tetap terjaga.
"Infrastruktur jadi penting," tambah Marjolijn Wajong.