Sektor pertanian domestik China tetap stabil di tengah lonjakan harga pupuk dunia pada Rabu (22/4/2026) berkat pemanfaatan batu bara sebagai bahan baku utama urea. Strategi ini melindungi pasar lokal dari gangguan rantai pasok gas alam akibat konflik di Timur Tengah.
Ketergantungan pada sumber energi dalam negeri menjadi keunggulan strategis bagi Beijing saat harga urea internasional melonjak hingga 70 persen. Dilansir dari Money, sekitar 78 persen produksi urea di China berasal dari batu bara yang ketersediaannya melimpah secara domestik.
Kapasitas produksi China pada tahun 2026 diproyeksikan mencapai rekor 76,5 juta ton, yang menciptakan surplus sekitar 10,5 juta ton di atas kebutuhan nasional. Pemerintah juga mempercepat pelepasan cadangan nasional setidaknya 15 hari lebih awal guna menstabilkan pasar selama musim tanam.
Gangguan distribusi di Selat Hormuz menyebabkan harga pupuk urea dunia naik sekitar 80 dollar AS per ton karena terhambatnya jalur perdagangan satu pertiga pupuk dunia. Kondisi ini memaksa negara-negara seperti India meningkatkan subsidi pupuk sebesar 11,6 persen untuk melindungi para petani mereka.
Pembatasan ekspor yang diterapkan China untuk menjaga stabilitas domestik diperkirakan dapat mengurangi volume ekspor hingga 75 persen atau sekitar 40 juta ton. Langkah proteksi ini berdampak langsung pada pasokan pupuk bagi negara importir seperti Brasil, Indonesia, Thailand, Malaysia, dan India.
Pola pertanian global mulai berubah seiring mahalnya harga pupuk, di mana petani di Amerika Serikat dan Australia beralih menanam komoditas rendah nutrisi seperti kedelai. Sebaliknya, petani di China tetap mampu memproduksi tanaman dengan kebutuhan pupuk tinggi seperti jagung tanpa kehilangan margin keuntungan.
Struktur biaya produksi yang tidak sensitif terhadap fluktuasi harga gas alam memungkinkan China menunda keputusan ekspor hingga Mei 2026 mendatang. Sementara itu, negara-negara di Eropa justru mengalami penurunan produksi pupuk setelah kehilangan akses pasokan gas dari Rusia.