China Jaga Stabilitas Harga Pupuk Domestik di Tengah Gejolak Global

China Jaga Stabilitas Harga Pupuk Domestik di Tengah Gejolak Global
Foto: Ilustrasi China Jaga Stabilitas Harga Pupuk Domestik di Tengah Gejolak Global.

Sektor pertanian di China menunjukkan ketahanan yang signifikan di tengah guncangan pasar pupuk global pada awal 2026. Dilansir dari Money, harga pupuk nitrogen di pasar internasional melonjak tajam akibat gangguan pasokan energi dunia.

Stabilitas domestik China didorong oleh struktur produksi yang sangat bergantung pada batu bara. Hal ini berbeda dengan mayoritas negara produsen urea dunia yang mengandalkan gas alam sebagai bahan baku utama.

Konflik yang mengganggu jalur perdagangan energi di Selat Hormuz memicu lonjakan harga urea internasional hingga 70 persen sejak akhir Februari 2026. Di pasar global, harga urea sempat menyentuh angka 700 sampai 780 dollar AS per ton.

Kondisi kontras terlihat di China bagian utara, di mana harga tetap terkendali pada kisaran 1.760 sampai 1.840 yuan per ton, atau setara 255 sampai 267 dollar AS. Ketimpangan harga ini memperlihatkan bagaimana struktur energi domestik memengaruhi daya tahan sektor pertanian.

Sekitar 78 persen produksi pupuk urea di China berasal dari batu bara, sumber energi yang tersedia melimpah di dalam negeri. Model produksi tersebut meminimalkan paparan terhadap volatilitas harga gas global yang kerap tidak menentu.

"China sebagian besar swasembada urea dan kurang rentan terhadap volatilitas harga gas alam dibandingkan banyak wilayah penghasil lainnya." ujar Willis Thomas, kepala analisis pupuk di CRU, dikutip dari Reuters.

Kapasitas produksi yang melimpah juga menjadi faktor kunci. China diproyeksikan mencetak rekor produksi sebesar 76,5 juta ton pupuk urea pada 2026, naik 6,3 persen dari tahun sebelumnya.

Dengan kebutuhan domestik sekitar 66 juta ton, terdapat potensi surplus hingga 10,5 juta ton. Sembilan fasilitas pabrik baru dijadwalkan mulai beroperasi tahun ini untuk menambah kapasitas produksi sebesar 4,9 juta ton per tahun.

Kebijakan Ekspor untuk Stabilitas Harga

Pemerintah China tetap mengendalikan keran ekspor meski memiliki potensi surplus yang besar. Langkah ini diambil guna menjaga keseimbangan pasokan dan harga di dalam negeri, terutama menjelang musim tanam.

"Jika China mulai mengekspor, harga urea lokal akan langsung melonjak seiring dengan pasar global. Pemerintah tidak menginginkan situasi itu," tutur analis StoneX, Josh Linville.

Kebijakan pembatasan ekspor ini berdampak pada pengetatan pasokan di pasar internasional. Negara importir seperti India dilaporkan telah meminta China untuk membuka ekspor guna mengatasi kekurangan pasokan mereka.

Dampak Konflik Global terhadap Biaya Pertanian

Peneliti dari Chinese Academy of Social Sciences, Li Guoxiang, menjelaskan bahwa dampak eskalasi konflik di Timur Tengah tetap perlu diwaspadai. Gangguan produksi di wilayah Teluk dapat meningkatkan biaya energi dan transportasi secara global.

"Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat meningkatkan biaya bagi sektor pertanian China dengan mendorong kenaikan harga energi dan pupuk global, meskipun pasokan pangan domestik tetap stabil," ujarnya, dikutip dari China Daily.

Li mencatat bahwa sekitar 46 persen pasokan urea global berasal dari kawasan Teluk. Jika distribusi melalui Selat Hormuz terhambat, harga minyak akan melonjak dan meningkatkan biaya logistik pertanian yang mengandalkan mekanisasi.

"Oleh karena itu, biaya bahan bakar yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya pertanian dan transportasi, yang berpotensi memengaruhi biaya pasokan biji-bijian di akhir tahun," kata Li.

Kondisi ini mulai mengubah pola tanam di berbagai negara. Petani di Amerika Serikat mulai mengurangi penanaman jagung dan beralih ke kedelai, sementara petani Australia lebih memilih barley untuk menghemat penggunaan nitrogen.

Sebaliknya, petani di China tidak menghadapi tekanan serupa dan tetap mempertahankan pola tanam yang menguntungkan. Pemerintah juga menyiapkan skema subsidi sementara jika biaya input pertanian meningkat signifikan di masa depan.

Sebagai salah satu eksportir pupuk terbesar, kebijakan China sangat memengaruhi pasar dunia. Tahun lalu, China mengekspor 4,9 juta ton urea, yang menyumbang sekitar 10 persen dari total perdagangan global.

Artikel terkait

Rekomendasi