Presiden Chery International, Zhang Guibing, mengumumkan transformasi strategi bisnis perusahaan melalui pengembangan ekosistem sub-brand di Wuhu, China, pada Minggu (25/4/2026). Langkah ini diambil untuk memperkuat posisi di pasar global, termasuk Indonesia, di tengah persaingan ketat industri otomotif.
Perusahaan otomotif asal China tersebut kini tidak lagi mengandalkan satu merek tunggal, melainkan mulai membangun berbagai sub-brand yang menyasar segmen pasar berbeda. Dilansir dari Otomotif, Zhang Guibing mengibaratkan perkembangan ini seperti pertumbuhan sebuah pohon yang bertransformasi menjadi hutan.
"Berapa tahun lalu, Chery hanya seperti satu pohon. Tapi hari ini kita bisa melihatnya, Chery dan Omoda merupakan nomor satu untuk antropologi," ujar Zhang Guibing, Presiden Chery International.
Persaingan domestik yang sangat kompetitif di China menjadi alasan utama produsen otomotif untuk berekspansi ke luar negeri. Strategi multi-brand dianggap sebagai solusi untuk bertahan dan terus berkembang di kancah internasional.
"Karena semua perusahaan China, sekarang di China, kompetisinya sangat keras. Jadi untuk terus bertahan, mereka harus keluar dari China," kata Zhang Guibing.
Lahirnya merek seperti Omoda dan Jaecoo merupakan bagian integral dari upaya menjangkau audiens yang lebih luas. Namun, Zhang mengungkapkan bahwa pengembangan sub-brand Omoda sempat menghadapi hambatan internal pada tahap awal karena proyeksi volume yang belum signifikan.
"Tapi saya berpikir, model itu akan sangat populer di pasar internasional. Tapi saya menghabiskan 2 tahun untuk mengikuti perusahaan. Dan setelah saya mengikuti Omoda 2 tahun, akhirnya perusahaan setuju dengan saya untuk memulai proyek," ujarnya.
Seiring waktu, merek Omoda dan Jaecoo mencatatkan pertumbuhan pesat dan berhasil menembus berbagai pasar, termasuk di Indonesia. Zhang memproyeksikan kehadiran merek-merek lain seperti iCar untuk melengkapi ekosistem bisnis mereka.
"Hari ini, pohon kedua telah keluar. Dan dalam pohon, mereka menjadi orang. Saya berharap, pohon lainnya, dan juga iCar dan sebagainya. Jadi, pohon yang berbeda akan menjadi hutan," kata Zhang Guibing.
Penerapan strategi banyak merek ini memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam menghadapi perubahan dinamika pasar. Setiap brand memiliki target segmen yang spesifik sekaligus berfungsi untuk membagi risiko operasional.
"Jadi, mungkin salah satu perusahaan tidak bagus, tapi perusahaan lain bisa mengambil risiko," ujarnya.
Dalam pemetaan persaingan, grup Chery menempatkan merek utamanya untuk bersaing dengan pabrikan besar seperti Toyota, Hyundai, Volkswagen, dan MG Motor. Sementara itu, Omoda dan Jaecoo diposisikan sebagai pesaing bagi Kia dan BYD melalui fokus pada desain modern dan teknologi listrik.
Segmen kendaraan petualang akan diisi oleh iCar yang diposisikan sebagai rival bagi Jeep, sedangkan merek Exeed diarahkan untuk menyasar kelas premium guna bersaing dengan Lexus. Strategi ini diharapkan mampu membangun fondasi global yang kuat melalui diferensiasi produk.
"Jadi, saya berpikir, hari ini, hutan sangat jarang keluar. Dan juga, bagaimana kita melakukannya? Karena mungkin kita memiliki terlalu banyak partner. Kita memiliki pelanggan yang besar," kata Zhang Guibing.
Kehadiran berbagai sub-brand ini diharapkan memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen sesuai dengan kebutuhan mereka yang beragam di masa depan.