Aktris pemenang Oscar, Charlize Theron, menceritakan detail masa pertumbuhannya yang traumatis di Afrika Selatan dalam sebuah wawancara yang diterbitkan oleh The New York Times pada Minggu (19/4/2026). Theron merefleksikan dampak kecanduan alkohol mendiang ayahnya yang memicu ketegangan hebat di rumah mereka.
Kondisi rumah tangga Theron didominasi oleh kehadiran bar besar yang dibangun ayahnya, Charles Theron, di dalam rumah. Aktris berusia 50 tahun tersebut menjelaskan bahwa situasi tersebut membuat pemandangan orang mabuk menjadi rutinitas mingguan yang menyiksa bagi dirinya dan sang ibu, Gerda.
"Ayah saya sering menghilang, dan kami tidak tahu dia di mana. Dia biasanya kembali dalam kondisi yang cukup parah," kenang Theron.
Sebagaimana dilansir dari Detikcom, lingkungan rumah yang penuh ancaman dan kekerasan verbal membuat Gerda akhirnya memutuskan untuk mengirim Theron ke sekolah asrama. Namun, ketegangan memuncak pada tahun 1991 saat Theron berusia 15 tahun ketika ayahnya menembak pintu keamanan rumah mereka.
"Ayah saya sering menghilang, dan kami tidak tahu dia di mana. Dia biasanya kembali dalam kondisi yang cukup parah," kenang Theron.
Meskipun tidak ada kekerasan fisik secara langsung sebelum insiden tersebut, Theron merasa keheningan pasca-pertengkaran adalah hal yang paling sulit dihadapi. Komunikasi di rumah bisa terputus selama berminggu-minggu setelah perselisihan besar terjadi.
"Hal terburuk bagi saya adalah ketika mereka saling mendiamkan. Setelah pertengkaran besar, mereka tidak akan bicara selama tiga minggu. Saya tidak punya saudara, dan rumah itu seketika menjadi sangat sunyi," ungkapnya.
Pada malam kejadian tahun 1991, ayah Theron pulang bersama pamannya dan mengancam akan membunuh seisi rumah sambil menuju brankas senjata. Theron mengingat dengan jelas teriakan ayahnya yang mengancam akan menggunakan senapan shotgun untuk masuk ke kamar mereka.
"Aku akan membunuh kalian malam ini. Kalian pikir aku tidak bisa masuk lewat pintu ini? Lihat saja. Aku akan ke brankas. Aku akan mengambil senapan shotgun," tutur Theron menirukan ayahnya.
Dalam kondisi panik, Gerda dan Theron menahan pintu kamar dengan tubuh mereka karena tidak adanya kunci. Ayahnya kemudian mulai melepaskan tembakan secara membabi buta ke arah pintu kamar tersebut dari jarak dekat.
"Dia mundur selangkah dan mulai menembak menembus pintu," kenang Theron.
"Dan ini hal yang luar biasa, tidak ada satu pun peluru yang mengenai kami," tambahnya.
Gerda kemudian membalas tembakan tersebut untuk melindungi putrinya yang menyebabkan Charles Theron tewas di tempat. Kepolisian setempat secara resmi menyatakan tindakan tersebut sebagai pembelaan diri sehingga tidak ada tuntutan hukum yang dijatuhkan kepada Gerda.
"Orang-orang cenderung menjauhi kejadian itu dan hanya ingin membahas satu hal tersebut. Penting untuk menjelaskan bahwa hal-hal ini terus menumpuk hingga akhirnya mencapai titik di mana semuanya menjadi sangat salah di rumah saya," jelas Theron.
Setahun setelah peristiwa itu, Theron pindah ke Eropa untuk memulai karier model pada usia 16 tahun. Pengalaman pahit di masa mudanya diakui telah membentuk kemandirian dan ketangguhan mentalnya untuk bertahan hidup di industri hiburan.
"Saya tahu cara memasak, cara menjahit. Saya tahu lebih banyak tentang cara menjaga diri sendiri dibandingkan anak-anak saya nanti saat mereka dewasa. Saya tahu saya akan bisa bertahan hidup," tegas Theron.
Theron menyatakan bahwa tekad kuat untuk tidak kembali ke masa lalunya yang kelam menjadi dorongan utama di balik kesuksesan kariernya saat ini. Ia berupaya keras memastikan dirinya tidak gagal agar tidak perlu mengulang memori masa kecil di Afrika Selatan.
"Saya sangat bertekad untuk melakukannya sendiri dan tidak gagal, karena saya tidak ingin kembali ke sana," tutup Theron.