Pelatih Timnas Brasil Carlo Ancelotti memberikan jawaban tegas terhadap kritik yang menyebut dirinya sebagai manajer yang miskin taktik. Seperti dilansir dari Detik Sport, Ancelotti menolak pandangan bahwa keberhasilannya hanya didasari kemampuan mengelola ego pemain.
Pria berusia 66 tahun ini memiliki rekam jejak mentereng yang sulit ditandingi pelatih mana pun. Ia tercatat sebagai satu-satunya pelatih yang pernah mengangkat trofi juara di lima kompetisi kasta tertinggi Eropa, yakni Italia, Inggris, Prancis, Jerman, dan Spanyol.
Selain dominasi di liga domestik, Ancelotti juga mengoleksi lima trofi Liga Champions sepanjang karier manajerialnya. Namun, meski memiliki prestasi segudang, label pelatih yang lebih mengutamakan pendekatan personal daripada kecerdasan strategi sering melekat padanya.
Penilaian tersebut muncul karena publik sering membandingkan gayanya dengan pelatih seperti Pep Guardiola, Luis Enrique, hingga Antonio Conte yang dikenal sangat mendetail dalam menyusun skema lapangan. Ancelotti pun memberikan pembelaan terkait cara kerjanya di balik layar.
Dalam sebuah wawancara dengan The Guardian, mantan pelatih Real Madrid ini menegaskan bahwa keharmonisan ruang ganti bukan satu-satunya kunci kesuksesan. Ia menyatakan bahwa pemahaman terhadap evolusi taktik modern tetap menjadi pilar utama dalam meraih gelar juara.
"Saya tak memenangi banyak gelar hanya karena hubungan dengan para pemain," ujar Ancelotti.
"Hubungan yang saya miliki dengan para pemain sangat membantu karena memungkinkan saya untuk memaksimalkan potensi pemain. Terkadang bahkan lebih dari yang maksimal."
"Tapi itu hanya satu bagian dari permainan. Bagi saya tidak penting apakah orang mengatakan saya ahli taktik yang baik atau tidak. Yang bisa saya katakan adalah saya sangat memahami semua aspek permainan."
Perubahan Paradigma dalam Sepak Bola Modern
Ancelotti mengakui bahwa dinamika di dalam lapangan terus mengalami transformasi yang signifikan. Menurutnya, pendekatan analitis dan intensitas fisik kini jauh lebih mendominasi dibandingkan dengan era sebelumnya.
Ia juga menyoroti adanya pergeseran fokus pada strategi bertahan yang kini dianggap tidak sekrusial satu dekade lalu. Adaptasi terhadap perubahan zaman menjadi hal yang selalu ia upayakan agar tetap relevan di level tertinggi sepak bola dunia.
"Sepak bola terus berubah. Saya mencoba beradaptasi dengan apa yang terjadi. Sepak bola saat ini lebih analitis, jauh lebih intens, lebih mengandalkan fisik. Beberapa taktik, terutama taktik bertahan, tidak sepenting 10 tahun lalu. Generasi pelatih baru lebih fokus pada aspek menyerang daripada bertahan," tegas Ancelotti.