Cahya Supriadi Jadi Pemain Terbaik Saat PSIM Tahan Imbang Persija

Cahya Supriadi Jadi Pemain Terbaik Saat PSIM Tahan Imbang Persija
Foto: Ilustrasi Cahya Supriadi Jadi Pemain Terbaik Saat PSIM Tahan Imbang Persija.

Penjaga gawang PSIM Yogyakarta Cahya Supriadi terpilih menjadi pemain terbaik setelah tampil gemilang dalam laga imbang 1-1 kontra Persija Jakarta di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, pada Rabu, 22 April 2026. Sebagaimana dilansir dari Bola, kiper berusia 23 tahun tersebut melakukan serangkaian penyelamatan krusial yang memastikan timnya membawa pulang satu poin dalam lanjutan kompetisi Super League.

Pemain muda ini menunjukkan kesigapan luar biasa di bawah mistar gawang sepanjang pertandingan meskipun gawangnya sempat kebobolan satu kali oleh lawan. Kontribusi signifikan dalam menjaga pertahanan membuat penyelenggara memberikan apresiasi individu sebagai pemain terbaik pada laga tersebut.

ÔÇ£Bersyukur bisa menjadi Man of The Match dalam laga kemarin. Ini sebuah pencapaian yang baik untuk saya secara pribadi,ÔÇØ ujar Cahya Supriadi, Kiper PSIM Yogyakarta.

Pelatih PSIM Yogyakarta Jean Paul Van Gastel memberikan pujian tinggi atas stabilitas performa yang ditunjukkan oleh anak asuhnya itu. Menurut pelatih asal Belanda tersebut, status Cahya sebagai bagian dari skuat Timnas Indonesia menjadi indikator kuat terhadap masa depan cerah sang pemain di level profesional.

ÔÇ£Saya puas dengan performa Cahya. Ia masih muda dan terpilih masuk ke tim nasional, sehingga masa depannya sangat cerah,ÔÇØ kata Jean Paul Van Gastel, Pelatih PSIM Yogyakarta.

Pihak manajemen menilai pemanggilan rutin ke tim nasional dipicu oleh konsistensi yang terus dijaga oleh Cahya di kompetisi domestik. Berdasarkan data statistik sepanjang musim Super League Indonesia 2025-2026, ia tercatat telah tampil sebanyak 27 kali dengan torehan delapan clean sheet dan kebobolan 36 gol.

Van Gastel menekankan bahwa setiap pemain muda membutuhkan ruang untuk berkembang melalui berbagai pengalaman di lapangan. Ia memandang kesalahan teknis sebagai elemen yang tidak terpisahkan dari perjalanan karier seorang penjaga gawang profesional.

ÔÇ£Tentu saja, pemain muda pasti pernah melakukan kesalahan, dan mereka harus belajar dari hal tersebut,ÔÇØ ucap Jean Paul Van Gastel, Pelatih PSIM Yogyakarta.

Pematangan mental dinilai menjadi aspek penting ketika seorang kiper harus bangkit setelah melakukan kekeliruan yang berujung pada gol lawan. Proses tersebut dianggap Van Gastel sebagai jembatan menuju kedewasaan bermain bagi Cahya di masa mendatang.

ÔÇ£Ketika seorang penjaga gawang membuat kesalahan, hal itu biasanya berujung pada gol bagi lawan, tetapi dia harus belajar untuk menghadapinya, menjadikannya pelajaran, dan terus melangkah maju,ÔÇØ kata Jean Paul Van Gastel, Pelatih PSIM Yogyakarta.

Kepemimpinan di area kotak penalti dan kemampuan belajar dari evaluasi pertandingan diharapkan terus meningkat seiring bertambahnya jam terbang. Van Gastel meyakini setiap tantangan akan membantu sang pemain mencapai versi terbaiknya.

ÔÇ£Perlahan-lahan, dia menjadi lebih dewasa. Seperti yang saya katakan, membuat kesalahan adalah bagian dari proses untuk menjadi versi dirinya yang lebih baik,ÔÇØ ucap Jean Paul Van Gastel, Pelatih PSIM Yogyakarta.

Artikel terkait

Rekomendasi