Penjaga gawang PSIM Yogyakarta, Cahya Supriadi, tampil sebagai pahlawan timnya saat berhasil mencuri poin dari markas Persija Jakarta. Dalam lanjutan kompetisi Super League 2025-2026 tersebut, laga berakhir imbang dengan skor 1-1.
Dikutip dari Bola, performa impresif Cahya di bawah mistar gawang menjadi kunci keberhasilan Laskar Mataram menahan gempuran tuan rumah. Pertandingan pekan ke-29 ini memperlihatkan ketangguhan sang kiper dalam menjaga pertahanan tim tamu.
Refleks cepat dan kemampuan membaca arah bola yang akurat membuat gawang PSIM sulit ditembus oleh barisan penyerang Macan Kemayoran. Meski terus ditekan sepanjang pertandingan, tim asuhan PSIM Yogyakarta tetap mampu mempertahankan kedudukan.
Momen paling krusial dalam laga ini terjadi pada menit ke-42 ketika wasit menunjuk titik putih untuk Persija Jakarta. Peluang emas ini seharusnya bisa membawa tuan rumah unggul lebih dulu sebelum turun minum.
Namun, eksekusi penalti yang dilepaskan oleh penyerang asing Persija, Maxwell, berhasil dimentahkan dengan sempurna oleh Cahya Supriadi. Penyelamatan heroik tersebut langsung membangkitkan moral bertanding para pemain PSIM di lapangan.
Keberhasilan menepis tendangan dua belas pas itu juga mengantarkan Cahya meraih penghargaan sebagai pemain terbaik atau "Man of The Match". Ia mengaku bangga dengan etos kerja yang ditunjukkan oleh rekan-rekan setimnya.
"Tentunya saya senang dengan performa tim yang mau berjuang dari awal hingga akhir. Senang juga rasanya bisa menggagalkan satu penalti lawan," kata Cahya dikutip dari situs resmi I League, Jumat (24/4/2026).
"Kami sempat unggul tapi setelah itu lawan mendapat dua penalti. Di momen itu saya berusaha untuk bisa menjaga semangat teman-teman dan bersyukur atas satu poin ini," sambungnya.
Fokus Koordinasi Pertahanan PSIM
Mantan penjaga gawang timnas junior ini menyatakan bahwa kesuksesan menahan tim peringkat tiga klasemen bukan hanya kerja individu. Ia menekankan pentingnya disiplin dan koordinasi yang kuat di area pertahanan.
Evaluasi dari kekalahan pada laga sebelumnya menjadi bahan bakar bagi lini belakang PSIM untuk tampil lebih rapat. Komunikasi antar pemain dianggap menjadi faktor pembeda dalam meredam serangan lawan yang agresif.
"Saya rasa lini pertahanan kami cukup solid karena komunikasi yang baik. Kami tahu di pertandingan sebelumnya tim kalah karena kecolongan lewat bola mati," ujar Cahya.
Tambahan satu poin dari ibu kota ini membuat PSIM Yogyakarta kini menduduki posisi ke-10 pada klasemen sementara Super League. Saat ini, Laskar Mataram telah mengumpulkan total 39 poin.