C40 Cities Dorong Penyelarasan Perencanaan Proyek Adaptasi Iklim Kota

C40 Cities Dorong Penyelarasan Perencanaan Proyek Adaptasi Iklim Kota
Foto: Ilustrasi C40 Cities Dorong Penyelarasan Perencanaan Proyek Adaptasi Iklim Kota.

C40 Cities merekomendasikan perencana kota dan pengembang untuk menyelaraskan fungsi keuangan dengan perencanaan iklim guna meningkatkan perolehan dana adaptasi. Langkah ini dilaporkan pada Rabu (22/4/2026) sebagai solusi atas keterbatasan anggaran dalam menghadapi krisis lingkungan global, dilansir dari Lestari.

Kebutuhan pendanaan untuk aksi adaptasi di daerah perkotaan saat ini dinilai belum mencukupi untuk membangun ketahanan wilayah. Penyelarasan strategi investasi diperlukan agar proyek-proyek lingkungan memiliki nilai tawar yang lebih kuat di mata pemilik modal internasional maupun lokal.

"Pendanaan untuk adaptasi iklim dapat terbuka ketika kota-kota menyusun proyek dengan kejelasan antara risiko keuangan dan keuntungan yang didapat, serta ketika para pemilik modal terlibat sebagai mitra jangka panjang dalam menyusun solusi," ungkap C40, sebuah jaringan global para wali kota dari kota-kota terkemuka di dunia.

Organisasi tersebut menyoroti hambatan utama yang sering dihadapi oleh pemerintah daerah dalam mengakses sumber daya finansial. Berdasarkan laporan terbaru mereka, akses pendanaan tetap menjadi kendala krusial bagi kota-kota yang berada di garis depan krisis iklim.

"Kota-kota adalah garda terdepan dalam krisis iklim, namun kurangnya akses ke pendanaan tetap menjadi hambatan terbesar untuk melakukan tindakan nyata," kata Andrea Fernández, direktur pelaksana keuangan iklim di C40 Cities.

Untuk mengatasi masalah tersebut, perencana kota disarankan melibatkan investor swasta sejak tahap awal perancangan proyek. Hal ini bertujuan agar inisiatif yang dibangun memiliki skala besar dan kelayakan finansial yang memadai melalui kemitraan pembagian risiko.

Pembuat kebijakan juga didorong untuk mencari sumber pendapatan baru dari proyek adaptasi, seperti melalui penentuan tarif atau pemanfaatan nilai tanah. Langkah ini juga harus didukung dengan penguatan sistem pelaporan dan transparansi untuk menjaga kepercayaan pasar.

Urgensi investasi ini didorong oleh data risiko kematian akibat suhu panas yang mengancam 95 dari 300 kota di Asia pada tahun 2035. Negara-negara berkembang diprediksi membutuhkan dana antara 310 hingga 400 miliar dolar AS atau sekitar Rp5.351 triliun sampai Rp6.904 triliun setiap tahunnya.

Beberapa contoh keberhasilan yang disorot meliputi Terowongan SMART di Kuala Lumpur yang berfungsi ganda sebagai jalan tol dan pengendali banjir. Selain itu, restorasi kanal Nhieu Loc-Thi Nghe di Vietnam menunjukkan bagaimana dukungan Bank Dunia mampu memicu investasi properti swasta untuk memperbaiki drainase.

Artikel terkait

Rekomendasi