Manajemen dealer mobil listrik BYD Dipo Denpasar melayangkan somasi terhadap selebgram Della Septiani pada Jumat, 24 April 2026, terkait unggahan konten video yang mengeluhkan kualitas pelayanan tenaga pemasar mereka. Dilansir dari Suara, pihak dealer mengambil langkah hukum setelah mengevaluasi bukti rekaman CCTV saat kunjungan sang pembuat konten.
Perselisihan ini bermula ketika Della, yang memiliki 623 ribu pengikut, mengunggah pengalaman pribadinya saat mengunjungi showroom di Bali tersebut. Ia mengklaim mendapatkan perlakuan tidak ramah dari staf karena datang dengan penampilan sederhana menggunakan sepeda motor dan sandal jepit.
"Pakaian gua gini. Naik motor sama tim gua semua. Tapi salesnya.. (menunjukkan ekspresi jutek)," ungkap Della.
Della juga menyatakan kekecewaannya karena merasa diabaikan oleh petugas di lokasi. Ia menegaskan bahwa tujuan kedatangannya adalah untuk membeli unit kendaraan listrik akibat kenaikan harga bahan bakar minyak.
"Gue nggak dilayani sama sekali. Padahal gue bener-bener mau cari mobil listrik karena BBM naik," keluh Della.
Lebih lanjut, ia mempertanyakan sikap diskriminatif yang diduga diterimanya hanya karena faktor busana saat mendatangi ruang pamer mobil tersebut.
"Emang kenapa kalau gue ke showroom pakai sandal jepit, bajunya jelek? Emang dia kira nggak mampu beli?" sambungnya.
Pihak BYD Dipo Denpasar kemudian melakukan klasifikasi dengan menunjukkan bukti rekaman kamera pengawas yang memperlihatkan kronologi berbeda. Perusahaan menyatakan bahwa Della sebenarnya mengenakan pakaian rapi saat masuk dan mendapatkan pelayanan sesuai prosedur dari staf mereka.
"Tamu baru memakai jaket/outer ketika keluar dari showroom BYD dan sempat membuat konten yang isinya menyampaikan keluhannya mengenai standar layanan yang diberikan," jelas BYD Dipo Denpasar.
Langkah hukum secara resmi ditempuh oleh tim kuasa hukum dealer melalui pengiriman surat peringatan kepada sang selebgram. Mereka juga mengimbau masyarakat untuk tidak memperkeruh situasi di ruang digital.
"Hari ini, kami telah mengirimkan somasi kepada konten kreator tersebut. Kami imbau netizen tidak menyebarluaskan konten terkait kasus yang sedang bergulir," ujar kuasa hukum pihak dealer.
Menanggapi somasi tersebut, Della Septiani memberikan pembelaan melalui keterangan tertulis. Ia bersikeras bahwa apa yang diunggahnya merupakan fakta objektif yang terjadi selama proses kunjungannya di lapangan.
"Oknum sales sibuk sendiri bermain HP, tidak melayani kami dengan baik," tegas Della.
Della menambahkan penjelasan pada kolom keterangan unggahannya untuk memperkuat klaim atas pengalaman buruk yang diterimanya sebagai calon pembeli potensial.
"Saya hanya menyampaikan apa yang saya alami secara langsung saat datang sebagai calon konsumen ke BYD BIPO Denpasar," tambahnya di caption.
Situasi ini memicu perdebatan di kalangan warganet, di mana sebagian menyayangkan tindakan manipulasi konten demi popularitas, sementara yang lain berbagi pengalaman serupa mengenai buruknya layanan purna jual dan perilaku diskriminatif di toko ritel.
"Nggak habis fikir dia pake jaket langsung dan bilang dengan pakaian seperti ini, padahal pakaian dia ke showroom itu rapi lho," komentar akun @jujulayn_d***.
Beberapa pengguna media sosial lainnya menyoroti fenomena umum di mana pengunjung yang berpenampilan sederhana sering kali dianggap rendah oleh penyedia jasa.
"Tapi kebanyakan emang gitu gak sih, semua toko kalo pengunjungnya pakai baju biasa sendal jepit pasti dianggap remeh," sahut akun @iam.***.
Komentar pedas juga datang dari netizen yang menilai bahwa bukti visual digital tidak dapat dibantah oleh narasi yang dibangun untuk kepentingan konten.
"Outfit boleh bohong, tapi CCTV nggak bisa diajak kompromi. Malunya sampai ke tulang rusuk itu," kata akun @dadan_sudjan***.
Kritik tambahan juga muncul dari warganet yang menyasar kualitas layanan operasional merek otomotif asal China tersebut secara umum.
"Tapi BYD tuh aftersalesnya juga seburuk itu," balas akun @abiyab***.