Bursa Saham Asia Melemah Akibat Lonjakan Harga Minyak Global

Bursa Saham Asia Melemah Akibat Lonjakan Harga Minyak Global
Foto: Ilustrasi Bursa Saham Asia Melemah Akibat Lonjakan Harga Minyak Global.

Pasar saham di Asia mengalami kejatuhan pada perdagangan Senin (18/5/2026) setelah lonjakan harga minyak mentah dan peningkatan imbal hasil obligasi global memicu kekhawatiran investor terhadap ancaman inflasi tinggi serta kelanjutan kenaikan suku bunga bank sentral.

Kemerosotan indeks saham di wilayah regional ini dipicu oleh aksi serang drone di kawasan Teluk yang mengancam kelancaran pasokan energi dunia, sebagaimana dilansir dari Internasional. Serangan udara tersebut menyasar sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab hingga terbakar, sedangkan tiga drone lainnya dilaporkan berhasil dilumpuhkan oleh otoritas Arab Saudi.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kian memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan peringatan keras kepada Iran untuk segera menyepakati perjanjian baru. Kondisi diperparah oleh kabar hampir tertutupnya Selat Hormuz yang menjadi jalur krusial bagi sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.

ÔÇ£Jika kondisi ini berlanjut hingga akhir tahun dan harga minyak bertahan di kisaran US$ 150 per barel sampai 2027, inflasi di Inggris dan zona euro bisa mendekati 10%, suku bunga kembali melonjak, dan ekonomi global berisiko masuk resesi,ÔÇØ tulis Capital Economics.

Kenaikan harga minyak jenis Brent sebesar 1,2 persen ke level US$ 110,63 per barel dan minyak mentah AS sebesar 1,0 persen ke level US$ 106,42 per barel memicu aksi jual masif di pasar obligasi global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun merangkak naik menuju posisi 4,584 persen, sementara untuk tenor 30 tahun bertahan pada level 5,109 persen.

Kondisi pasar saat ini membagi proyeksi kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve menjadi berimbang 50:50. Para pelaku pasar kini bersiap mencermati perilisan risalah rapat terakhir The Fed pada hari Rabu (21/5) guna membaca proyeksi kebijakan moneter selanjutnya.

Penurunan indeks saham melanda Nikkei Jepang sebesar 0,4 persen dan Kospi Korea Selatan yang terkoreksi tajam hingga 2,1 persen setelah reli panjang saham semikonduktor mulai kehilangan tenaga. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turut merosot 0,6 persen, di saat pasar China tengah mengantisipasi rilis data penjualan ritel serta produksi industri periode April.

Sentimen investor pada pekan ini juga akan diuji oleh rilis laporan keuangan kuartalan dari produsen chip raksasa Nvidia yang dijadwalkan keluar pada Rabu (21/5). Kinerja keuangan Nvidia dipandang sebagai indikator krusial bagi kelanjutan reli saham teknologi berbasis kecerdasan buatan, mengingat saham perusahaan tersebut telah melonjak 36 persen sejak menyentuh level terendah pada Maret lalu.

Selain sektor teknologi, laporan kinerja keuangan sejumlah perusahaan ritel raksasa seperti Walmart juga dijadwalkan rilis pekan ini untuk memotret daya beli konsumen di tengah lonjakan harga energi. Pada pasar keuangan, dolar AS terus bergerak menguat sebagai aset likuid pilihan dengan nilai euro berada di level US$ 1,1620 dan pound sterling di US$ 1,3318, sementara harga emas bergerak stagnan pada posisi US$ 4.540 per ons.

Artikel terkait

Rekomendasi