Warga kurang mampu di Desa Kutabawa, Kecamatan Karagreja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, menerima penyaluran bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng dari Bulog untuk jatah dua bulan, seperti dilansir dari Media Indonesia.
Wilayah lereng Gunung Slamet dengan ketinggian 1.100 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut tersebut sama sekali tidak memiliki areal persawahan padi, sehingga komoditas sayur-sayuran menjadi komoditas utama lokal.
Seorang janda dengan anak difabel bernama Gering menyatakan kebahagiaannya atas bantuan pangan yang diterimanya pada April lalu untuk alokasi Februari dan Maret.
"Alhamdulillah, ada bantuan pangan, terutama beras. Saya mendapatkan jatah 20 kg beras dan 4 liter minyak goreng. Ini sangat membantu bagi saya yang tidak punya pekerjaan tetap dan masih mengurus anak," ungkap Gering pada Selasa (12/5).
Kondisi geografis desa yang berupa lahan sayuran membuat warga tidak memiliki kesempatan untuk mengumpulkan sisa panen padi seperti di wilayah perdesaan lainnya.
Manfaat program ini juga dirasakan oleh warga prasejahtera lain bernama Narsih yang terbantu di tengah tingginya harga beras di warung sekitar.
"Bantuan beras sebanyak 20 kg sangat membantu. Selain itu, ada Minyakita sebanyak 4 liter. Jadi saya bisa mengurangi pembelian beras di warung. Di sini, harga beras di warung-warung mencapai Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per kg. Memang agak tinggi, karena di sini tidak ada orang yang memiliki sawah yang menghasilkan padi," ujarnya.
Kepala Desa Kutabawa Budiyono menjelaskan terdapat 1.308 warga setempat yang terdaftar sebagai penerima bantuan sosial pangan ini.
"Biasanya mereka masuk dalam kategori Desil 1 sampai 4. Jelas, mereka sangat berterima kasih karena masih ada bantuan pangan untuk warga, apalagi desa ini tidak memiliki areal sawah yang ditanami padi," jelas Budiyono kepada Media Indonesia pada Rabu (13/5).
Budiyono menambahkan bahwa karakteristik lahan di wilayahnya yang seluas 7,29 kilometer persegi memang hanya cocok untuk budi daya sayur-sayuran.
"Desa kami berada di atas 1.100 hingga 1.500 mdpl. Cocoknya di sini memang ditanami sayur-sayuran. Lahan sawah memang tidak ada," katanya.
Menurutnya, peningkatan kualitas bantuan pangan dari masa ke masa terus dirasakan manfaatnya oleh warga setempat.
"Dulu, sewaktu masih raskin, kan biasanya kualitasnya kurang bagus. Ada yang masih tetap konsumsi juga, karena memang tidak memiliki beras. Kemudian ternyata semakin ke sini, makin baik. Berasnya sangat layak konsumsi," kata Budiyono.
Sebelum bantuan beras masuk secara rutin, sebagian besar masyarakat di desa tertinggi Kabupaten Purbalingga ini menjadikan jagung sebagai pangan pokok sehari-hari.
"Karena di sini tidak ada beras, maka kami makan jagung. Sampai sekarang masih tetap ada yang makan nasi jagung, tetapi sudah dicampur dengan beras," ungkapnya.
Pemimpin Bulog Cabang Banyumas Prawoko Setyo Aji memaparkan sejumlah wilayah kerjanya di Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara memiliki daerah yang mengalami defisit atau minim lahan padi.
"In wilayah kerja Bulog Banyumas yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara ada daerah tak punya lahan sawah. Misalnya di lereng Gunung Slamet sebelah timur yakni Kutabawa dan Sumbang. Bahkan, ada satu kecamatan di Banjarnegara yang tidak ada sawah. Yaitu Kecamatan Batur yang berada di dataran tinggi Dieng," paparnya.
Distribusi logistik ke wilayah terpencil seperti Kecamatan Kampung Laut di perairan Segara Anakan Cilacap membutuhkan penanganan khusus melalui jalur laut.
"Kampung Laut itu berada di wilayah perairan Segara Anakan. Sehingga untuk menjangkaunya harus menggunakan perahu. Termasuk, ketika kami harus memasok bantuan pangan, harus mengangkut dengan perahu agar sampai ke lokasi Kampung Laut," katanya.
Prawoko menegaskan komitmen lembaganya untuk memastikan seluruh titik distribusi dapat terjangkau sesuai dengan tenggat waktu.
"Mau di pegunungan atau menembus hutan mangrove di Cilacap, bantuan pangan harus sampai. Karena warga harus menerima sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan," kata Prawoko.
Langkah stabilisasi harga juga ditempuh lewat penyediaan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) melalui jaringan Rumah Pangan Kita dengan harga eceran tertinggi yang ditentukan.
"Misalnya saja, beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) yang harganya terjangkau. Jika dari Bulog, maka harga jual tidak boleh lebih dari Rp12.500 per kilogram. Atau dalam satu kantong 5 kg, HET (harga eceran tertinggi) Rp62.500," jelasnya.
Bulog mengoptimalkan pasokan beras dari empat kabupaten penopang di wilayah Banyumas Raya yang bertindak sebagai lumbung padi regional.
"Di wilayah Banyumas Raya merupakan sentra padi di Jawa Tengah. Sehingga kami mengintensifkan penyerapan pada saat panen. Tahun 2025 lalu, Bulog Banyumas mampu menyerap 66 ribu ton setara beras. Tahun ini, mulai Januari hingga Mei sudah mencapai 42 ribu ton. Sehingga kami optimistis tahun 2026 akan melebihi tahun 2025," kata Prawoko.
Stok pangan di gudang saat ini diklaim berada pada posisi aman guna meredam potensi fluktuasi pasar akibat fenomena cuaca buruk.
"Kami masih akan terus menyerap padi dan beras petani. Sehingga nantinya stok bisa makin meningkat. Penyerapan gabah dilakukan secara berkelanjutan dengan rata-rata mencapai sekitar 1.000 ton Gabah Kering Panen (GKP) saat ini," tegasnya.
Pihaknya memastikan kesiapan stok logistik guna menjaga tiga pilar ketahanan pangan nasional di tingkat produsen serta konsumen.
"Dengan stok yang ada, kami pastikan harga tetap terjangkau dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi," jelas Prawoko.
Penyaluran komoditas pangan pokok ini difokuskan secara merata untuk daerah yang mengalami defisit ketersediaan beras di tingkat desa maupun kecamatan.
"Di wilayah yang defisit, peran kami adalah memastikan ketersediaan beras tetap ada. Kami menyalurkan melalui SPHP, Rumah Pangan Kita (RPK) maupun pasar-pasar sekitar agar masyarakat tetap mudah mengakses beras. Di Banyumas Raya sudah ada 2.948 RPK dan tersebar di empat kabupaten," katanya.
Intervensi pasar segera dijalankan oleh Bulog sewaktu pergerakan harga komoditas pokok merangkak naik akibat keterbatasan pasokan.
"Kalau ada daerah defisit, otomatis harga cenderung naik. Di situ peran kami menjaga agar harga tetap stabil dan terjangkau oleh masyarakat," lanjutnya.
Bulog terus mengoordinasikan kelancaran distribusi beras SPHP dan program bantuan pemerintah ini tanpa hambatan operasional.
"Intinya, kami diperintahkan untuk memastikan beras tersedia dan bisa diakses masyarakat kapan pun dibutuhkan," ujar Prawoko.
Pengamat sosial ekonomi pertanian dari Universitas Jenderal Soedirman Budhi Darmawan menilai peran Bulog sangat krusial dalam menyelaraskan instrumen harga pasar.
"Lembaga ini akan menyeimbangkan pasar dengan menjaga stabilitas bahan pokok serta melindungi petani dari harga yang anjlok. Dalam penyerapannya, Bulog harus menyesuaikan HET. Itu berarti harga di tingkat petani terjaga. Di sisi lain, Bulog memiliki peran untuk menjaga harga pasar di tingkat konsumen sesuai HET. Konsumen akan mendapatkan harga yang wajar, tidak ada lonjakan. Inilah vitalnya keberadaan Bulog," paparnya.
Pemberlakuan HET oleh pemerintah ditujukan untuk mengontrol laju inflasi melalui stabilitas harga jual di tingkat produsen dan pasar.
"Dengan menjaga rentang harga sesuai HET, maka inflasi akan dapat dikendalikan. Di sinilah pentingnya Bulog terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan lainnya seperti Dinas Pertanian di tingkat daerah dan Kementerian Pertanian di tingkat nasional," ujarnya.
Manajemen stok pangan nasional harus dikelola secara ketat utamanya saat menghadapi tantangan El Nino yang membawa ancaman kekeringan.
"Bulog harus memastikan stok pangan aman, agar harga tetap terkendali. Jadi, ketika ada kekurangan pasokan beras di pasaran, Bulog akan segera bisa mengeluarkan stoknya untuk pengendalian harga di pasaran. Di sinilah pentingnya, supaya inflasi tetap terkendali," tambahnya.