Buffon Ungkap Peran dalam Kartu Merah Zidane pada Final 2006

Buffon Ungkap Peran dalam Kartu Merah Zidane pada Final 2006
Foto: Ilustrasi Buffon Ungkap Peran dalam Kartu Merah Zidane pada Final 2006.

Mantan penjaga gawang tim nasional Italia, Gianluigi Buffon, menceritakan kembali keterlibatannya dalam insiden tandukan Zinedine Zidane terhadap Marco Materazzi pada final Piala Dunia 2006. Kesaksian tersebut disampaikan Buffon dalam sebuah wawancara terbaru yang dilansir dari Bola.

Kiper legendaris tersebut mengaku menjadi orang pertama yang menyadari tindakan kekerasan Zidane di lapangan sebelum wasit mengetahuinya. Buffon yang berada di posisi cukup dekat segera menghampiri perangkat pertandingan untuk memberikan laporan langsung mengenai kejadian di Stadion Olympia, Berlin tersebut.

"Saya berada sekitar 15 meter dari kejadian itu dan saya bisa mendengar bunyinya. Kalau dia melakukan hal itu kepada orang lain, orang itu pasti sudah pingsan," ujar Buffon.

Laporan yang diberikan Buffon kepada asisten wasit menjadi krusial karena para pengadil lapangan pada awalnya tidak melihat kontak fisik tersebut secara langsung. Intervensi ini memicu penghentian pertandingan dan berujung pada pengusiran Zidane dari laga pamungkasnya.

"Asisten wasit tidak melihatnya. Satu-satunya yang menyaksikannya adalah saya. Jadi, saya berlari menghampiri wasit dan asistennya untuk menarik perhatian mereka. Materazzi tergeletak di lapangan, Zidane tak bergerak, saya sedang memprotes, dan akhirnya pertandingan dihentikan," lanjut Buffon.

Meskipun tindakannya memastikan Italia unggul jumlah pemain, Buffon mengaku sempat merasa terpukul melihat legenda sepak bola seperti Zidane harus menyudahi karier profesional dengan cara yang tragis. Italia sendiri akhirnya memenangkan laga tersebut melalui babak adu penalti.

"Saya merasa terguncang dan diliputi perasaan campur aduk. Saya tahu itu adalah pertandingan terakhir Zidane, dan dia adalah salah satu pemain terhebat dan paling berkelas dalam sejarah sepak bola."

Kekecewaan Buffon timbul karena ia sangat menghormati sosok Zidane sebagai seniman lapangan hijau. Penyelamatan gemilang Buffon terhadap sundulan Zidane beberapa menit sebelumnya menjadi salah satu aksi terbaik sebelum insiden tandukan terjadi.

"Dan saya merasa sedih bahwa karirnya berakhir dengan cara seperti itu" tambahnya.

Selain membahas masa lalu, Buffon turut mengecam kegagalan Gli Azzurri yang absen dalam tiga edisi Piala Dunia secara berturut-turut, termasuk edisi 2026. Ia menganggap situasi ini sebagai kenyataan pahit yang sulit diterima bagi negara dengan tradisi sepak bola besar.

"Ini merupakan masa yang menyakitkan bagi sepak bola Italia dan bagi saya sendiri. Seandainya mereka memberitahu saya bahwa hal ini akan terjadi (12) tahun yang lalu,"

Buffon menekankan bahwa ketidakpercayaan terhadap kemerosotan performa nasional sangat besar, bahkan menyamakannya dengan sesuatu yang mustahil terjadi di masa lalu.

"Saya pasti akan berkata bahwa jauh lebih mudah melihat 1.000 alien di sekeliling saya daripada melihat Italia gagal lolos ke tiga turnamen berturut-turut. Namun, itulah kenyataannya." ujarnya.

Mengenai solusi kebangkitan tim nasional, Buffon menegaskan perlunya analisis mendalam terhadap masalah internal dibandingkan sekadar melakukan penyangkalan terhadap krisis yang sedang terjadi.

"Untuk mengatasi hal ini, kami perlu memahami mengapa ada kesulitan-kesulitan tersebut. Kami perlu berubah."

Ia memperingatkan bahwa masa depan sepak bola Italia hanya bisa diperbaiki jika seluruh elemen mengakui adanya penurunan kualitas kompetisi dan pembinaan pemain.

"Jika kiami memahami analisis ini dengan jelas, kami memiliki potensi untuk menciptakan masa depan yang jauh lebih baik. Namun, jika Anda menyangkal adanya masalah, maka masalah itu akan selalu ada," ucap Buffon.

Buffon mengidentifikasi hilangnya pemain dengan daya kreativitas tinggi sebagai faktor utama kemunduran tim nasional saat ini dibandingkan dengan generasi juara masa lalu.

"Kami memiliki beberapa pemain hebat, tapi yang kurang adalah talenta kreatif sejati seperti (Roberto) Baggio, (Alessandro) Del Piero, atau (Francesco) Totti yang dulu membantu kami meraih kemenangan," tutup Buffon.

Artikel terkait

Rekomendasi