Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan klarifikasi resmi guna menanggapi keraguan publik atas capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2025 yang menyentuh angka 5,12 persen. Penegasan ini disampaikan pada Selasa (21/4/2026) di Jakarta untuk menjamin akurasi data statistik nasional.
Metodologi yang digunakan dalam penghitungan tersebut diklaim telah memenuhi standar internasional. Dilansir dari Money, pertumbuhan pada periode April-Juni 2025 ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan realisasi kuartal I 2025 yang hanya mencapai 4,87 persen secara tahunan.
Direktur Neraca Produksi BPS, Puji Agus Kurniawan, memberikan penjelasan mengenai basis data luas yang dimiliki otoritas statistik untuk menyusun angka Produk Domestik Bruto (PDB). Cakupan variabel yang digunakan institusi ini disebut lebih mendalam dibandingkan estimasi pihak eksternal.
"Kami menyampaikan tadi berapa data yang digunakan untuk menghitung PDB. Jadi kalau misalkan di luar menghitung atau mengestimasi, pasti variabelnya tidak sebanyak yang digunakan oleh BPS," ujar Puji Agus Kurniawan, Direktur Neraca Produksi BPS.
Puji menekankan bahwa sistem yang berlaku saat ini mengacu pada Sistem Neraca Nasional (SNN) 2008. Hal tersebut bertujuan agar kualitas data terjaga serta memiliki keterbandingan yang kuat dengan standar ekonomi global di berbagai negara.
"Secara teknis dia lebih spesifik juga waktunya. Karena ketika saya berbicara ada 17 kategori dari pertanian sampai hulu, itu metodenya beda-beda, tergantung dengan data yang tersedia," ungkap Puji Agus Kurniawan, Direktur Neraca Produksi BPS.
Penghitungan dilakukan melalui tiga jalur utama, yakni pendekatan produksi, pengeluaran, dan pendapatan. Sektor produksi mencakup 17 kategori lapangan usaha, sementara sisi pengeluaran memantau konsumsi rumah tangga hingga aktivitas ekspor-impor secara terperinci.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, sebelumnya telah memaparkan detail nilai ekonomi nasional pada periode tersebut. PDB atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp 5.947 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan berada di angka Rp 3.396,3 triliun.
"Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 bila dibandingkan dengan kuartal II 2024 atau secara year on year tumbuh sebesar 5,12 persen," kata Moh Edy Mahmud, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS.
Realisasi pertumbuhan 5,12 persen ini juga tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2024 terpantau berada di level 5,05 persen secara tahunan.