PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menyalurkan kredit sebesar Rp919,3 triliun hingga kuartal I 2026, mencatatkan kenaikan 20,1 persen secara tahunan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ekspansi agresif ini tetap berlangsung meski dunia dibayangi konflik geopolitik Timur Tengah dan fluktuasi harga minyak dunia.
Pertumbuhan kinerja ini dilansir dari Money, yang menyebutkan bahwa emiten berkode BBNI tersebut tetap mampu menjaga ketahanan model bisnisnya menghadapi tekanan eksternal. Selain penyaluran kredit, perseroan juga berhasil membukukan laba bersih mencapai Rp5,6 triliun pada periode yang sama.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyatakan bahwa hasil positif ini merupakan buah dari strategi pengelolaan risiko yang disiplin. Menurutnya, perusahaan berupaya keras mempertahankan momentum pertumbuhan yang ada.
"BNI terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam pengelolaan risiko di tengah dinamika global yang penuh tantangan," ujar Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama BNI.
Penopang utama ekonomi nasional dinilai berasal dari sinergi kebijakan moneter dan fiskal domestik yang stabil. Pemerintah juga berperan menjaga daya beli masyarakat melalui pemberian berbagai stimulus usaha, subsidi energi, hingga bantuan sosial secara berkelanjutan.
Struktur pendanaan bank pun ikut menguat melalui pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), terutama dari sektor dana murah atau CASA. Hingga Maret 2026, CASA BNI tercatat melonjak 26,6 persen secara tahunan hingga mencapai posisi Rp731,6 triliun.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menekankan pentingnya likuiditas yang kuat dalam menunjang kesehatan ekspansi kredit. Capaian ini diklaim mampu meningkatkan efisiensi biaya dana perusahaan secara signifikan.
"Pencapaian ini menjadi enabler bagi ekspansi kredit, sekaligus menjaga efisiensi biaya dana dan mengindikasikan adanya peningkatan pangsa pasar di tengah kompetisi likuiditas yang ketat," kata Hussein Paolo Kartadjoemena, Direktur Finance & Strategy BNI.
Kualitas aset perseroan menunjukkan tren positif dengan rasio kredit bermasalah atau NPL yang berada di level 1,9 persen. Selain itu, tingkat loan at risk juga terpantau membaik ke angka 8,6 persen, melampaui performa periode sebelum pandemi.
Sebagai upaya memperkuat fondasi keuangan terhadap risiko global masa depan, BNI menerbitkan instrumen Additional Tier-1 senilai 700 juta dollar AS atau sekitar Rp11,9 triliun pada April 2026. Langkah strategis ini diharapkan dapat memperluas ruang ekspansi bisnis perbankan ke depan.
"Penguatan permodalan ini semakin meningkatkan kapasitas BNI dalam mengantisipasi potensi risiko sekaligus membuka ruang ekspansi bisnis secara berkelanjutan dan sehat di masa yang akan datang," ujar Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama BNI.