Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz hampir sepenuhnya terhenti pada Minggu (26/4/2026) akibat blokade ketat yang diberlakukan oleh otoritas Iran dan Amerika Serikat (AS). Jalur perdagangan vital dunia tersebut kini nyaris kosong tanpa pergerakan kapal yang signifikan di tengah kebuntuan upaya diplomatik kedua negara.
Kondisi ini dipicu oleh kegagalan dialog damai antara Teheran dan Washington yang dilansir dari Money melalui laporan Bloomberg. Situasi semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana kunjungan utusan diplomatiknya ke Pakistan untuk membahas penyelesaian konflik tersebut.
"menawarkan banyak hal, tetapi belum cukup" kata Donald Trump, Presiden AS.
Pembatalan ini menunjukkan ketidakpuasan pihak Gedung Putih terhadap proposal yang diajukan oleh pihak Iran. Di sisi lain, pemimpin Iran memberikan respons tegas terhadap tekanan militer dan ekonomi yang diterapkan oleh Amerika Serikat di kawasan Teluk.
"negosiasi yang dipaksakan di bawah ancaman atau blokade" tegas Masoud Pezeshkian, Presiden Iran.
Pezeshkian juga memberikan penekanan bahwa pemulihan hubungan diplomatik sulit terjadi selama tindakan permusuhan masih berlangsung. Data pelacakan kapal hingga Minggu pagi menunjukkan hanya satu kapal kargo kecil asal Thailand dan satu tanker kimia kecil yang melintasi perairan tersebut.
Kekosongan aktivitas ini merupakan dampak dari insiden pekan lalu ketika kapal patroli Iran menembaki kapal kargo, yang kemudian dibalas dengan pencegatan oleh militer AS. Meski lalu lintas lumpuh, Iran dilaporkan tetap mengisi kapal supertanker di Pulau Kharg dengan jutaan barel minyak mentah.
Citra satelit menunjukkan sekitar 21 kapal tanker raksasa berkumpul di terminal dan perairan sekitarnya, namun tidak dapat keluar karena blokade Angkatan Laut AS di Teluk Oman. Tekanan ekonomi juga ditingkatkan melalui sanksi terhadap Hengli Petrochemical di China yang kedapatan membeli minyak dari Iran.
Kapal-kapal yang nekat melintas kini cenderung mematikan sistem pelacakan otomatis (AIS) untuk menghindari deteksi radar. Praktik ini menyulitkan pemantauan akurat di wilayah Teluk Oman hingga Laut Merah karena adanya potensi manipulasi sinyal di jalur sempit dekat Pulau Larak dan Qeshm.