Biruni Foundation Salurkan Ratusan Paket Bantuan Anak Kelompok Rentan

Biruni Foundation Salurkan Ratusan Paket Bantuan Anak Kelompok Rentan
Foto: Ilustrasi Biruni Foundation Salurkan Ratusan Paket Bantuan Anak Kelompok Rentan.

Biruni Foundation mendistribusikan ratusan paket bantuan melalui program "Teman Biruni Bahagia" bagi anak-anak dari kelompok rentan dan disabilitas di berbagai wilayah Indonesia pada Rabu (29/4/2026). Dilansir dari Lestari, inisiatif ini menyasar 160 anak yang tinggal di kawasan marginal Jakarta hingga beberapa provinsi lainnya.

Penyaluran bantuan tersebut menjangkau lokasi seperti kolong jembatan Manggarai, Kober Jatinegara, PAUD Seruni Pasar Minggu, Sisi Baik Depok, hingga Taman Bacaan Perigi. Selain di wilayah Jabodetabek, bantuan serupa dikirimkan untuk anak-anak disabilitas di Aceh, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.

Founder Biruni Foundation, Taradea, menjelaskan bahwa program ini merupakan wujud kepedulian terhadap kebutuhan dasar anak di tengah tekanan hidup yang semakin berat. Paket yang diberikan meliputi bahan pangan bergizi seperti beras, telur, keju, susu, buah, margarin, madu, serta perlengkapan sekolah dan buku cerita.

"Untuk membahagiakan anak-anak, tidak selalu dibutuhkan hal yang besar. Kami ingin membersamai Teman Biruni untuk hidup sehat, cerdas, dan bahagia," ujar Taradea.

Dukungan sederhana ini diharapkan mampu memberikan kebahagiaan bagi anak-anak di lingkungan perkotaan yang menghadapi tantangan hidup spesifik. Pemenuhan kebutuhan dasar menjadi fokus utama organisasi dalam kegiatan sosial kali ini.

Co-Founder Biruni Foundation, Lea Jakobiak, menegaskan bahwa inisiatif tersebut muncul akibat kesenjangan sosial yang masih menghimpit banyak keluarga di tanah air.

"Tidak semua keluarga memiliki kondisi yang sama. Ada yang lebih beruntung, ada juga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Kami ingin hadir untuk membantu anak dan keluarga yang membutuhkan dukungan," kata Lea.

Keluarga dengan keterbatasan ekonomi dan anak penyandang disabilitas menjadi prioritas utama penerima manfaat karena membutuhkan perhatian lebih besar. Program ini diharapkan membuka akses anak terhadap pendidikan dan asupan gizi yang krusial bagi tumbuh kembang mereka.

Kebutuhan intervensi sosial ini sejalan dengan data kesehatan mental anak yang dirilis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Berdasarkan catatan KPAI, terdapat 46 kasus bunuh diri anak pada 2023, 43 kasus pada 2024, dan 26 kasus pada 2025 yang dipicu tekanan ekonomi serta beban emosional.

Faktor asupan gizi juga menjadi sorotan penting dalam mendukung fisik dan kestabilan emosi anak usia sekolah. Laporan UNICEF Indonesia tahun 2023 menyebutkan gizi yang baik berperan langsung dalam meningkatkan kemampuan belajar dan kesehatan fisik anak.

Artikel terkait

Rekomendasi