Lonjakan harga oli dan suku cadang mulai menekan operasional sejumlah bengkel kendaraan dalam beberapa bulan terakhir, seperti dilansir dari Otomotif.
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi pemicu utama kondisi ini, yang diperparah oleh kenaikan harga komponen impor serta bahan baku berbasis minyak.
Penyesuaian harga kini mulai menyasar ke berbagai komponen kendaraan lain, termasuk ban, baut, vanbelt, hingga suku cadang yang berbahan dasar logam.
Sejumlah pelaku usaha perbengkelan mengonfirmasi bahwa rata-rata kenaikan harga untuk beberapa produk impor telah mencapai kisaran 20 hingga 30 persen.
Situasi ini menempatkan banyak pengelola bengkel dalam posisi dilematis antara menghadapi kenaikan biaya operasional dan risiko kehilangan pelanggan jika menaikkan tarif layanan.
Guna menyiasati kondisi tersebut, beberapa pemilik bengkel memilih untuk belum membebankan biaya tambahan secara langsung kepada para konsumen mereka.
Pemilik bengkel Quick Service, Indra Kurniawan, menjelaskan bahwa pihaknya masih berupaya menahan kenaikan tarif servis demi mempertahankan loyalitas dari para pelanggan.
ÔÇ£Untuk sementara waktu kita menurunkan profit untuk menjaga customer, walaupun harga oli sudah naik 20 persen,ÔÇØ ujar Indra kepada Kompas.com, Jumat (22/5/2026).
Kondisi serupa juga dirasakan oleh pemilik bengkel Dokter Mobil, Lung Lung, yang menyebutkan bahwa tekanan inflasi melanda hampir seluruh aspek kebutuhan operasional usaha.
ÔÇ£Iya, naik. Semua bahan dasar naik, oli, chemicals, parts. Jadi sudah pasti sebentar lagi akan naik semua harga,ÔÇØ kata Lung Lung.
Meski memprediksi kenaikan harga secara menyeluruh dalam waktu dekat, bengkel Dokter Mobil yang juga memiliki cabang di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur ini masih menahan tarif lama.
ÔÇ£Tapi kalau sekarang belum (naik),ÔÇØ ujarnya.