Merek otomotif Jaecoo merinci estimasi biaya penggantian baterai untuk lini kendaraan elektrifikasinya di Indonesia pada Rabu (6/5/2026). Langkah ini dilakukan guna memberikan transparansi kepada konsumen mengenai biaya kepemilikan komponen termahal pada kendaraan listrik tersebut.
Transparansi mengenai biaya perbaikan baterai menjadi krusial mengingat tingginya minat masyarakat terhadap mobil listrik belakangan ini. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Otomotif, setiap model kendaraan memiliki besaran biaya yang berbeda-beda sesuai kapasitas energinya.
Head of Marketing Jaecoo Indonesia, Mohammad Ilham Pratama, menjelaskan bahwa rincian harga tersebut disesuaikan dengan tipe dan teknologi yang diusung masing-masing produk.
"J7 SHS sekitar Rp 106 juta untuk kapasitas 18,3 kWh, J8 SHS Rp 160 juta dengan 34,4 kWh, dan J5 EV Rp 174 juta dengan kapasitas 60,9 kWh," ujar Ilham, kepada Kompas.com, Rabu (6/5/2026).
Manajemen menegaskan bahwa nominal tersebut belum termasuk pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN). Kebijakan teknis perusahaan juga menetapkan bahwa penggantian baterai tidak dapat dilakukan hanya pada bagian tertentu atau per modul saja.
"Untuk penggantian sekitar tiga jam," kata Ilham.
Pekerjaan teknis di bengkel resmi tersebut diklaim berlangsung relatif singkat untuk ukuran perbaikan komponen vital. Untuk mempermudah pemilik kendaraan, Jaecoo telah mengintegrasikan sistem peringatan dini guna memantau kesehatan baterai.
"Biasanya jika baterai rusak, akan ada indikator menyala dan pengingat," ujarnya.
Fitur indikator tersebut akan muncul secara otomatis pada panel instrumen apabila terdeteksi adanya penurunan performa atau potensi kerusakan. Hal ini bertujuan agar pengguna dapat segera melakukan tindakan perawatan sebelum kondisi komponen semakin memburuk.