Bank Indonesia Tingkatkan Intervensi Pasar Valas Redam Pelemahan Rupiah

Bank Indonesia Tingkatkan Intervensi Pasar Valas Redam Pelemahan Rupiah
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Tingkatkan Intervensi Pasar Valas Redam Pelemahan Rupiah.

Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing guna menahan tekanan pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat pada Senin (18/5/2026). Langkah strategis tersebut dilansir dari Media Indonesia guna menstabilkan gejolak besar dalam perekonomian domestik.

ÔÇ£Dosisnya kami tingkatkan, sehingga kami intervensi valas untuk menstabilkan karena gejolak-gejolak jumlahnya besar,ÔÇØ kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI yang digelar secara daring.

Penurunan cadangan devisa sekitar US$10 miliar tercatat sebagai dampak dari pelaksanaan intervensi yang menyasar pasar domestik maupun luar negeri. Penurunan tersebut baru mencerminkan sebagian dari keseluruhan intervensi yang dijalankan oleh bank sentral, khususnya melalui transaksi spot.

Otoritas moneter juga mengoptimalkan instrumen non-spot demi memperkuat stabilitas mata uang. Porsi intervensi terbesar justru dialokasikan pada instrumen di luar transaksi spot tersebut.

ÔÇ£Kami terus terang juga menyediakan intervensi untuk hedging, untuk swap, untuk forward kami lakukan,ÔÇØ ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Penyesuaian kebijakan operasi moneter turut diterapkan melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia untuk menarik kembali arus masuk modal asing. Langkah terukur ini diambil setelah sebelumnya terjadi aliran modal keluar dari pasar keuangan dalam negeri.

ÔÇ£Jadi kami sudah menakar itu dari step ke step,ÔÇØ kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder aktif dilakukan dengan realisasi mencapai Rp332 triliun sepanjang tahun lalu dan sekitar Rp133 triliun pada tahun berjalan. Selain itu, batas pembelian dolar tanpa underlying akan diturunkan bertahap menjadi US$25 ribu mulai Juni.

Tekanan musiman seperti pembayaran dividen, kebutuhan haji, dan pembayaran utang luar negeri diproyeksikan memicu tekanan tinggi pada periode April hingga Juni. Meski demikian, kondisi nilai tukar rupiah diyakini akan segera membaik memasuki paruh kedua tahun ini.

ÔÇ£Insya Allah nanti Juli, Agustus, September, rupiah akan menguat,ÔÇØ ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Nilai tukar rupiah saat ini dinilai masih berada dalam kondisi undervalued jika merujuk pada proyeksi makro ekonomi. Bank Indonesia menetapkan asumsi rata-rata nilai tukar berada pada kisaran Rp16.200 hingga Rp16.800 sepanjang tahun 2026.

Faktor eksternal berupa tingginya suku bunga di Amerika Serikat, kenaikan imbal hasil US Treasury, serta ketegangan geopolitik memicu pelarian modal dari pasar negara berkembang. Situasi global ini memperkuat posisi dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia.

ÔÇ£Artinya terjadi suatu pelarian modal dari emerging market ke negara maju, khususnya Amerika Serikat,ÔÇØ jelas Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Sebagai respons, bank sentral menerapkan kombinasi intervensi, penyesuaian suku bunga, serta pengelolaan likuiditas rupiah. Seluruh strategi diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dengan tetap memastikan kecukupan likuiditas sistem keuangan domestik.

Artikel terkait

Rekomendasi