Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 21-22 April 2026. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan memitigasi dampak gejolak geopolitik global terhadap inflasi domestik.
Dilansir dari Finansial, otoritas moneter juga menetapkan suku bunga deposit facility tetap di level 3,75 persen dan lending facility pada posisi 5,5 persen. Keputusan ini menandai bulan ketujuh berturut-turut bank sentral menjaga suku bunga acuan sejak ditetapkan pada Oktober 2025 lalu.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa revisi pertumbuhan ekonomi global kini turun menjadi 3 persen dari proyeksi sebelumnya 3,1 persen untuk tahun 2026. Kondisi ini dipicu oleh tensi perang di Timur Tengah sejak Februari yang mengganggu jalur perdagangan energi dunia.
"Sehingga makin mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global. Penurunan Fed Fund Rate di AS juga diprakirakan mundur atau bahkan bertahan hingga akhir 2026," paparnya Perry Warjiyo, Gubernur BI.
Kebijakan penahanan suku bunga tersebut dinilai masih selaras dengan upaya penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter. Perry menegaskan kesiapan lembaga dalam melakukan intervensi lanjutan di pasar spot maupun Domestic Non-Delivery Forward (DNDF) untuk menyokong rupiah yang kini berada di posisi Rp17.140 per dolar AS.
"Ke depan, BI siap menempuh penguatan lebih lanjut kebijakan moneter yang diperlukan untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar dan menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5%+-1%," terang Perry Warjiyo, Gubernur BI.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan bahwa kenaikan yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) secara bertahap sejak awal tahun telah berhasil menarik aliran modal asing. Tercatat arus modal masuk ke pasar keuangan melalui SRBI mencapai Rp54,3 triliun secara year to date hingga April 2026.
"Segala upaya memang kami lakukan, tentu dengan net inflow dari asing yang semakin meningkat ini akan memperkuat ketahanan sektor eksternal," ujar Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit APBN di bawah 3 persen terhadap PDB meskipun harga minyak dunia meningkat. Pemerintah berupaya memastikan sektor riil tetap bertumbuh melalui ketersediaan likuiditas yang memadai dalam sistem perekonomian.
"Bagaimana bisa tumbuh lebih cepat? Karena kami akan memastikan real sector tumbuh. Gimana caranya? Kami pastikan ada cukup likuiditas di sistem perekonomian kita. Ini tugas bank sentral, tugas BI," papar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede menilai fokus pada stabilitas merupakan langkah logis mengingat prospek ekonomi global yang masih dibayangi risiko inflasi energi. Ia melihat adanya penurunan premi credit default swap (CDS) Indonesia sebagai indikator membaiknya persepsi risiko investor.
"Dalam situasi seperti itu, menurut saya suku bunga acuan BI dalam waktu dekat lebih mungkin tetap ditahan cukup lama dengan kecenderungan ketat, bukan cepat diturunkan," jelas Josua Pardede, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk.
Ia menambahkan bahwa pasar saat ini mulai menunjukkan tanda-tanda ketenangan meskipun bank sentral tetap harus waspada dalam melonggarkan kebijakan moneter.
"Artinya, pasar mulai lebih tenang, tetapi belum cukup tenang untuk membuat BI merasa aman melonggarkan kebijakan," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk.
Global Market Economist Maybank Myrdal Gunarto menekankan pentingnya sinergi antara BI dan pemerintah untuk menjaga fundamental ekonomi. Stabilitas rupiah diharapkan terus terjaga meski terdapat tekanan permintaan valas domestik untuk kebutuhan impor bahan bakar minyak.
"Dan pada akhirnya kondisi dari sisi nilai tukar rupiah akan tetap stabil ke depannya, walaupun akan ada tekanan dari permintaan valas domestik yang lebih tinggi di saat kebutuhan untuk impor, terutama BBM," jelas Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank.