Bank Indonesia Catat Kredit Menganggur Capai Rp2.527 Triliun Maret 2026

Bank Indonesia Catat Kredit Menganggur Capai Rp2.527 Triliun Maret 2026
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Catat Kredit Menganggur Capai Rp2.527 Triliun Maret 2026.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyoroti tingginya nilai fasilitas kredit yang belum digunakan atau undisbursed loan yang mencapai Rp2.527,46 triliun pada Maret 2026. Meskipun angka tersebut sangat besar, pertumbuhan kredit perbankan pada periode yang sama dilaporkan tetap melesat hingga 9,49 persen secara tahunan.

Berdasarkan data yang dilansir dari Money, rasio kredit yang masih menganggur tersebut berada di level 22,59 persen dari total plafon kredit tersedia. Nilai ini menunjukkan penurunan tipis sebesar 0,35 persen jika dibandingkan dengan posisi Februari 2026 yang tercatat sebesar Rp2.536,4 triliun.

Peningkatan penyaluran kredit pada Maret 2026 yang mencapai 9,49 persen (yoy) tercatat lebih tinggi daripada pertumbuhan Februari 2026 sebesar 9,37 persen (yoy). Angka pertumbuhan ini juga melampaui capaian Maret 2025 yang hanya berada di angka 9,16 persen (yoy).

"Dari sisi permintaan, pemanfaatan pembiayaan perbankan masih dapat ditingkatkan, terutama dengan mengoptimalkan undisbursed loan yang masih cukup besar," ujar Perry Warjiyo, Gubernur BI dalam konferensi pers pada Rabu (22/4/2026).

Perry menekankan bahwa dari aspek penawaran, kemampuan perbankan nasional untuk menyalurkan modal kerja maupun investasi masih sangat memadai. Hal ini didukung oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang bertahan tinggi di angka 27,85 persen.

"Dari sisi penawaran, kapasitas perbankan untuk menyalurkan kredit masih sangat memadai," jelas Perry Warjiyo, Gubernur BI.

Selain likuiditas yang melimpah, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan performa solid dengan kenaikan 13,55 persen (yoy) pada Maret 2026. BI menilai perbankan masih mempertahankan standar penyaluran kredit yang relatif longgar guna menjaga minat debitur dalam meminjam.

Meski ada kebijakan pelonggaran, bank sentral mencatat adanya sikap selektif dari perbankan terhadap sektor-sektor tertentu yang dinilai memiliki profil risiko lebih tinggi. Perbankan terpantau lebih waspada dalam mengucurkan dana untuk kategori konsumsi dan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

"Koordinasi dengan Pemerintah dan KSSK terus diperkuat untuk memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan tersebut," tutur Perry Warjiyo, Gubernur BI.

Guna memaksimalkan target pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia berencana memperkuat pendanaan melalui sumber nontradisional di luar DPK. BI memproyeksikan pertumbuhan kredit sepanjang tahun 2026 akan stabil pada rentang 8 hingga 12 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi