Penggunaan bensin dengan angka oktan (RON) rendah secara bertahap memicu kerusakan pada komponen turbocharger mobil akibat gangguan pada sistem pembakaran di wilayah Sukoharjo, Minggu (26/4/2026). Risiko ini muncul karena bahan bakar berkualitas rendah tidak mampu menahan tekanan tinggi pada mesin turbo.
Masalah utama yang timbul adalah gejala detonasi atau knocking yang berdampak pada suhu operasional kendaraan. Sebagaimana dilansir dari Otomotif, kondisi ini tidak langsung menghancurkan komponen namun melalui proses degradasi material yang sistematis.
Muchlis, pemilik bengkel Spesialis Toyota Mitsubishi, Garasi Auto Service Sukoharjo menjelaskan bahwa bensin di bawah standar pabrikan akan mengganggu efisiensi pembakaran. Hal tersebut memicu reaksi berantai yang merugikan bagi ketahanan komponen mesin internal.
ÔÇ£Kerusakan terjadi melalui proses bertahap yang diawali dari gangguan pada sistem pembakaran mesin, masalah utamanya adalah detonasi atau knocking,ÔÇØ ucap Muchlis kepada KOMPAS.com, Minggu (26/4/2026).
Tekanan tidak normal di ruang bakar akibat knocking berpotensi merusak piston dan klep. Kondisi tersebut pada akhirnya meningkatkan suhu gas buang secara drastis yang langsung berimbas pada bagian turbocharger.
ÔÇ£Knocking dapat meningkatkan suhu gas buang. Turbocharger yang digerakkan oleh gas buang akan menerima panas berlebih, sehingga berisiko mengalami overheating,ÔÇØ ucap Muchlis.
Paparan panas ekstrem secara terus-menerus dapat melemahkan material turbin dan housing hingga menyebabkan keretakan. Selain suhu, pembakaran tidak sempurna juga menghasilkan residu karbon yang dapat menyumbat jalur-jalur vital menuju turbo.
ÔÇ£Kerak tebal akan mempercepat keausan di area mesin, termasuk turbo, karbon yang menumpuk dapat mengganggu pergerakan komponen,ÔÇØ ucap Muchlis.
Endapan karbon tersebut seringkali membuat sudu turbin menjadi kotor atau macet total. Saat tenaga mesin merosot akibat kualitas bahan bakar yang buruk, sistem kendaraan akan memaksa turbo bekerja lebih ekstra demi menjaga stabilitas performa.
ÔÇ£Kerja berlebih ini menyebabkan tekanan dan beban pada turbo meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mempercepat keausan pada bearing dan komponen internalnya,ÔÇØ ucap Muchlis.