MAKASSAR, investor.id - Bank Indonesia (BI) akan mengubah mekanisme insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) dengan menyesuaikannya pada selisih (spread) antara BI-Rate dan suku bunga kredit perbankan. Langkah ini ditempuh untuk memastikan kenaikan suku bunga acuan tidak serta-merta diikuti lonjakan bunga kredit yang dapat menghambat pertumbuhan pembiayaan.
Bank Indonesia menegaskan kenaikan suku bunga acuan tidak otomatis langsung mendorong kenaikan suku bunga kredit perbankan. Menurut bank sentral, transmisi kebijakan moneter ke bunga kredit berlangsung secara bertahap dan dipengaruhi sejumlah faktor internal masing-masing bank.
Penegasan tersebut disampaikan setelah BI menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19-20 Mei 2026. Sebelumnya, BI-Rate sempat bertahan di level 4,75% setelah dipangkas total 150 basis poin dalam periode pelonggaran moneter sebelumnya.
Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Dhaha P. Kuantan, mengatakan bahwa sebelum BI menaikkan suku bunga acuan, suku bunga kredit perbankan hingga April 2026 masih mencatat tren penurunan.
ÔÇ£Kalau yang kita cermati, suku bunga kredit pada Maret sekitar 9,03%, kemudian pada April menjadi 8,95%. Jadi masih melanjutkan tren penurunan," ujar Dhaha dalam Media Gathering BI di Makassar, seperti dikutip pada Minggu (24/5/2026).
Menurut Dhaha, kondisi tersebut menunjukkan transmisi perubahan BI-Rate terhadap bunga kredit tidak berlangsung secara instan. Penurunan bunga kredit saat ini masih dipengaruhi dampak lanjutan dari periode sebelumnya ketika BI-Rate diturunkan dan bertahan di level rendah dalam beberapa waktu.
Ia menjelaskan, dalam menetapkan suku bunga kredit, perbankan mempertimbangkan sejumlah komponen, mulai dari cost of fund (CoF), premi risiko, margin keuntungan, hingga overhead cost. Faktor-faktor tersebut menyebabkan adanya lag effect atau jeda waktu dalam transmisi kebijakan moneter ke sektor perbankan.
Untuk menjaga agar kenaikan bunga kredit tidak bergerak terlalu cepat maupun terlalu lambat, BI mendesain kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) sebagai instrumen penyeimbang.
Skema Baru Kebijakan KLM
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Langkah Selanjutnya Setelah BI-Rate Naik, Ini Kata Ekonom
BI-Rate Naik, Sektor Properti dan Otomotif Bersiap Gigit Jari
Apindo: Kenaikan BI-Rate Berat, tapi Rupiah Melemah Lebih Berisiko
Negara Asean, China, Palestina Ikuti MTQ Internasional di Istiqlal
HMSP Royal Dividen, Saham Bisa Ngacir, Dapat Angin Segar
Laba BBCA April Masih Tumbuh, Masa Saham Cuma Rp5.000-an, Harusnya Segini
Ekonom Nilai Ekspor SDA Satu Pintu Bisa Dongkrak Penerimaan Negara
Rupiah Terpuruk, Cuan Pelaku Usaha Mulai Tergerus
Penulis : Akmalal Hamdhi 24 Mei 2026 | 16:42 WIB
Bank Indonesia mencatat insentif KLM yang diterima perbankan hingga Mei 2026 mencapai Rp 424,69 triliun atau setara 4,76% dari dana pihak ketiga (DPK).
ÔÇ£Tadi kami sampaikan melalui KLM harapannya meskipun BI-Rate naik, kenaikan dari sisi suku bunga kredit itu menjadi lebih manageable sehingga transmisinya ke pertumbuhan kredit itu masih bisa berjalan,ÔÇØ kata Dhaha.
Menurut dia, kebijakan tersebut juga diharapkan mampu menekan praktik special rate atau suku bunga khusus bagi deposan besar yang dinilai dapat menghambat efektivitas transmisi kebijakan moneter.
Dhaha mengatakan, BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Kementerian Keuangan, dan pemerintah terus berkoordinasi untuk menurunkan special rate agar transmisi kebijakan moneter berjalan lebih optimal.
Lebih lanjut, BI akan menyesuaikan mekanisme insentif KLM berdasarkan spread antara BI-Rate dan suku bunga kredit perbankan. Bank yang menjaga spread bunga kredit pada level wajar akan tetap memperoleh insentif likuiditas penuh.
ÔÇ£Kalau spread antara BI-Rate dengan suku bunga kredit masih sekitar 3%, itu kita anggap masih wajar. Nah itu dia mendapatkan insentif yang full. Nah kalau spread-nya terlalu tinggi, tentunya insentifnya akan semakin berkurang dan bahkan tidak mendapatkan insentif,ÔÇØ kata Dhaha.
Ia menambahkan, desain KLM kini dibuat lebih forward looking. Dalam skema baru, bank harus terlebih dahulu menyampaikan komitmen penyaluran kredit untuk memperoleh insentif likuiditas.
Dengan mekanisme tersebut, BI berharap likuiditas yang diberikan benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan kredit sekaligus menjaga efektivitas transmisi kebijakan moneter ke sektor riil.
Editor: Prisma Ardianto
Apindo: Kenaikan BI-Rate Berat, tapi Rupiah Melemah Lebih Berisiko
Finance 10 menit yang lalu BI-Rate Naik, Skema Insentif KLM bakal Diubah BI akan mengubah mekanisme insentif KLM agar kenaikan BI-Rate tidak serta merta diikuti lonjakan bunga kredit perbankan.
National 16 menit yang lalu Negara Asean, China, Palestina Ikuti MTQ Internasional di Istiqlal Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan Baktiar Najamudin mengungkapkan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional Pemuda Masjid Dunia yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta, diikuti sejumlah negara, antara lain China, Palestina, dan sejumlah negara ASEAN.
Market 22 menit yang lalu HMSP Royal Dividen, Saham Bisa Ngacir, Dapat Angin Segar HMSP atau HM Sampoerna tergolong royal bagi dividen. HMSP juga mendapat angin segar. Muncul target harga saham HMSP.
Macroeconomy 32 menit yang lalu Ekonom Nilai Ekspor SDA Satu Pintu Bisa Dongkrak Penerimaan Negara Ekonom menilai kebijakan ekspor SDA satu pintu melalui DSI bisa memperbaiki tata kelola dan mendongkrak penerimaan negara.
Macroeconomy 56 menit yang lalu Rupiah Terpuruk, Cuan Pelaku Usaha Mulai Tergerus Rupiah terus melemah. Kadin Indonesia menilai tekanan kurs mulai membebani dunia usaha, terutama sektor ritel berbasis impor.
Tag Terpopuler
Terpopuler
Saham Lagi Murah-murahnya, Dividen Tembus Rp 376,95 per Saham Prediksi Harga Emas Antam (ANTM) Senin 25 Mei 2026