Bank Indonesia Terapkan Strategi Baru Stabilkan Rupiah

Bank Indonesia Terapkan Strategi Baru Stabilkan Rupiah
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Terapkan Strategi Baru Stabilkan Rupiah.

Bank Indonesia menerapkan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah secara terukur melalui instrumen pasar obligasi guna menjaga likuiditas domestik pada Senin (18/5/2026). Langkah ini diambil setelah mata uang Garuda merosot tajam ke level Rp 17.668 per dolar Amerika Serikat akibat tekanan eksternal global.

Pelemahan nilai tukar tersebut dipicu oleh sentimen negatif seperti penguatan dolar Amerika Serikat, inflasi energi, kebijakan The Fed, dan ketegangan geopolitik. Dilansir dari Investor Daily, rupiah di pasar spot ambles sebesar 71 poin atau 0,4 persen, sementara indeks dolar menurun ke level 99,21.

Bank sentral mengoptimalkan pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder senilai Rp 133 triliun sepanjang tahun berjalan untuk menahan lonjakan imbal hasil obligasi. Selain itu, otoritas moneter mengandalkan portofolio SBN senilai Rp 1.700 triliun untuk mengatur arus modal masuk.

"Kami belajar dulu zaman 97-98 dan 2008 banyak fokus stabilitas nilai rupiah banyak intervensi menguras likuiditas. Sehingga mengobati stabilitas rupiah tapi membuat kekeringan likuiditas," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR.

Evaluasi dari krisis masa lalu mendorong institusi ini menghemat cadangan devisa dengan mengombinasikan penjualan instrumen jangka pendek dan pembelian imbal hasil jangka panjang. Pengendalian valuta asing juga diperketat dengan membatasi pembelian dolar Amerika Serikat maksimal US$ 25.000 per orang setiap bulan.

"Kami ada Rp 1.700 triliun dalam SBN kami, kami jual jangka pendek jadi ada inflow. Tapi kami beli yield jangka panjang," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Pertumbuhan uang primer didorong mencapai dua digit demi menjaga ketersediaan dana di dalam negeri di tengah fluktuasi musiman yang biasa terjadi pada triwulan kedua. Otoritas meyakini kinerja mata uang domestik akan berbalik menguat pada periode Juli hingga Agustus hingga mencapai rentang Rp 16.200-Rp 16.800 di akhir tahun.

"Insyaallah ke depan akan lebih baik. Indonesia saya kira prospeknya bagus, fundamentalnya bagus. Kita harus ada keyakinan," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Tingkat fluktuasi tahunan yang berada pada posisi 5,4 persen dinilai masih mencerminkan kondisi perekonomian yang kokoh. Penghitungan indikator keberhasilan moneter kini difokuskan pada tingkat volatilitas pergerakan harga, bukan sekadar melihat angka kurs harian.

"Kami cek tadi itu di dalam year to date sekarang, itu adalah 5,4%, which is actually itu masih relatif stabil. Lagi-lagi, mandatnya undang-undang stabilitas nilai tukar rupiah. Mari kita berdiskusi mengukur stabilitas, stabilitas bukan level, tapi ada bagaimana naik turunnya," jelas Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Siklus peningkatan permintaan valas korporasi diprediksi mereda setelah melewati bulan Juni sehingga tekanan terhadap cadangan devisa akan berkurang. BI memproyeksikan penguatan nilai tukar akan berjalan beriringan dengan masuknya kembali modal asing ke pasar keuangan domestik.

"Nanti kalau Juli, Agustus akan menguat. Sehingga the whole year kami masih meyakini nilai tukar akan di dalam kisaran Rp 16.200-Rp 16.800," tegas Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi