Bank Indonesia bersama Pemerintah secara resmi memperkenalkan inisiatif Percepatan Intermediasi Indonesia atau PINISI 2026 untuk memperkuat struktur ekonomi nasional.
Program ini dirancang guna memastikan momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga melalui optimalisasi investasi serta perluasan kapasitas pembiayaan di berbagai sektor.
Langkah strategis tersebut difokuskan pada percepatan penyaluran kredit ke sektor riil serta menghapus berbagai hambatan intermediasi yang selama ini dialami perbankan nasional.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa penguatan mesin pertumbuhan domestik sangat krusial di tengah kondisi ketidakpastian global saat ini.
Target pertumbuhan ekonomi nasional dipatok pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen untuk tahun 2026 melalui sinergi kebijakan yang lebih erat.
"Melalui penguatan bauran kebijakan makroprudensial, Bank Indonesia berkomitmen mendorong pertumbuhan kredit dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan, sekaligus membangun kepercayaan para pelaku usaha agar proyek prioritas nasional mendapatkan dukungan pembiayaan perbankan yang optimal," kata Perry Warjiyo dikutip dari Suara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, turut menyatakan bahwa sektor jasa keuangan memiliki posisi strategis sebagai penggerak utama pembangunan nasional.
Pemerintah berharap penyaluran kredit perbankan dapat menyasar sektor UMKM secara sehat untuk menciptakan nilai tambah dan memperluas lapangan kerja baru.
Berdasarkan data hingga 31 Maret 2026, capaian realisasi Kredit Program telah menyentuh angka Rp78,39 triliun atau setara 24,88 persen dari total target tahun ini.
Pertumbuhan kredit perbankan secara tahunan tercatat berada di level 9,49 persen pada Maret 2026, menunjukkan tren positif dalam penyaluran dana ke masyarakat.
Namun, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan masih ada ruang besar untuk meningkatkan pembiayaan pada sektor-sektor produktif di tanah air.
Data menunjukkan terdapat fasilitas pinjaman yang belum ditarik oleh debitur atau undisbursed loan mencapai Rp2.527,46 triliun, yaitu sekitar 22,59 persen dari plafon kredit.
"Langkah ini bertujuan mendorong bank menyalurkan kredit ke sektor prioritas sekaligus mempercepat penurunan suku bunga kredit," ujar Destry Damayanti.
Bank Indonesia terus memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial guna merangsang perbankan agar lebih aktif menyalurkan dana ke sektor-sektor prioritas.
Kondisi Likuiditas Perbankan Nasional
Kapasitas pembiayaan perbankan saat ini dinilai masih sangat memadai dengan rasio likuiditas (AL/DPK) yang terjaga di level 27,85 persen.
Sementara itu, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan angka yang kuat, yakni mencapai 13,55 persen pada posisi Maret 2026.
Kegiatan PINISI 2026 yang digelar selama dua hari ini turut memfasilitasi agenda business matching antara pemilik proyek prioritas dengan investor global serta pihak perbankan.
Sinergi ini diharapkan mampu mempertegas komitmen dalam mendorong arus investasi masuk ke Indonesia demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.