Menteri Bahlil Beri Sinyal Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi Pertamax

Menteri Bahlil Beri Sinyal Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi Pertamax
Foto: Ilustrasi Menteri Bahlil Beri Sinyal Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi Pertamax.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan indikasi mengenai rencana penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax. Kebijakan ini nantinya akan sangat bergantung pada pergerakan harga minyak mentah di pasar global.

Dikutip dari Kompas, Bahlil menjelaskan bahwa BBM nonsubsidi seperti Pertamax memiliki skema harga yang mengikuti dinamika pasar internasional. Kondisi tersebut memicu terjadinya perubahan harga di dalam negeri, baik berupa kenaikan maupun penurunan, secara berkala.

Ketergantungan terhadap harga pasar global menjadi faktor utama dalam penetapan nilai jual BBM nonsubsidi kepada masyarakat. Bahlil menegaskan bahwa fluktuasi harga di level dunia secara otomatis akan memberikan dampak langsung pada harga jual di tingkat domestik.

"Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, memberi sinyal harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamax akan disesuaikan. Kepastiannya mengikuti harga minyak dunia."

Hingga saat ini, beberapa jenis BBM nonsubsidi telah mengalami kenaikan harga karena mengikuti tren pasar global. Bahlil menyoroti adanya perbedaan signifikan antara asumsi harga minyak mentah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan realitas pasar saat ini.

Pemerintah sebelumnya menetapkan asumsi harga minyak mentah pada level 70 dolar AS per barel di dalam APBN. Namun, kenyataannya harga minyak mentah di pasar internasional saat ini terpantau masih bertahan di atas level 90 dolar AS per barel.

"Menurut Bahlil, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax mengikuti harga pasar minyak dunia. Artinya, jika ada kenaikan dan penurunan minyak global, maka dalam negeri akan mengikuti."

"Bahlil menekankan beberapa harga BBM nonsubsidi sudah naik karena mengikuti harga minyak global. Pasalnya, dalam APBN ditetapkan harga minyak mentah di level 70 dolar AS per barel, sedangkan harga minyak masih di atas 90 dolar AS per barel."

Ketimpangan antara proyeksi anggaran dan harga aktual di pasar global menjadi landasan bagi pemerintah dalam mempertimbangkan kebijakan harga energi. Penyesuaian ini dipandang perlu guna menjaga stabilitas sektor energi nasional di tengah tekanan harga komoditas dunia.

Artikel terkait

Rekomendasi