Ahli Peringatkan Bahaya Perilaku Dry Begging dalam Hubungan Asmara

Ahli Peringatkan Bahaya Perilaku Dry Begging dalam Hubungan Asmara
Foto: Ilustrasi Ahli Peringatkan Bahaya Perilaku Dry Begging dalam Hubungan Asmara.

Fenomena psikologis dry begging atau kebiasaan meminta sesuatu secara tidak langsung kini menjadi sorotan karena potensinya memicu manipulasi emosional dalam hubungan asmara pada Jumat, 17 April 2026. Perilaku ini ditandai dengan penggunaan kode atau keluhan samar alih-alih mengungkapkan keinginan secara lugas kepada pasangan.

Istilah dry begging merujuk pada situasi ketika seseorang memiliki kebutuhan namun gagal menyampaikannya secara transparan, sebagaimana dilansir dari Wolipop melalui Huffpost.

"Dry begging adalah ketika seseorang meminta sesuatu secara tidak langsung. Ada kebutuhan, tapi tidak disampaikan dengan jelas," jelas Aerial Cetnar, terapis sekaligus pemilik Boulder Therapy and Wellness di Colorado, AS.

Pola komunikasi ini sering kali melibatkan petunjuk halus yang membingungkan pasangan. Aerial menegaskan bahwa pengulangan tindakan ini dapat menjadi tanda bahaya yang serius dalam dinamika relasi.

"Kalau sudah menjadi pola, itu red flag," tegas Aerial.

Ketidakjelasan dalam meminta sering kali berujung pada rasa kecewa bagi pelaku karena merasa kebutuhannya diabaikan. Padahal, pasangan mungkin tidak menangkap maksud terselubung tersebut.

"Mereka merasa sudah meminta, padahal sebenarnya tidak," kata Aerial.

Kurangnya pendidikan komunikasi terbuka sejak dini menjadi salah satu faktor utama mengapa seseorang memilih metode ini. Aerial menilai rasa aman menjadi alasan di balik perilaku tersebut.

"Sering kali orang tidak diajarkan bagaimana meminta sesuatu dengan jelas," kata Aerial.

Konselor profesional dari Thriveworks, Tori-Lyn Mills, turut memberikan pandangan mengenai akar penyebab munculnya kebiasaan ini. Menurutnya, motivasi di balik dry begging bisa sangat beragam mulai dari rasa tidak aman hingga upaya manipulasi.

"Ini bisa berasal dari rasa tidak aman, ketakutan, atau bahkan manipulasi," ujarnya.

Mills menambahkan bahwa jika dibiarkan, perilaku ini akan membebani pasangan dengan tanggung jawab emosional yang tidak semestinya. Hal ini sering kali memanfaatkan rasa empati pasangan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

"Perilaku ini bisa memanfaatkan empati orang lain, bahkan menggeser tanggung jawab dalam hubungan," kata Tori-Lyn.

Meskipun sering dikaitkan dengan gangguan kepribadian tertentu, Mills menekankan adanya perbedaan mendasar antara kebiasaan sesekali dengan sifat narsistik. Pada narsisme, terdapat elemen tuntutan yang jauh lebih kuat dan rasa berhak yang tinggi.

"Dalam narsisme, ada rasa 'berhak' yang tinggi. Permintaan bisa disampaikan secara terselubung, tapi dengan tuntutan yang lebih kuat," jelas Tori-Lyn.

Banyak individu merasa lebih aman menggunakan kode karena adanya trauma penolakan di masa lalu. Ketakutan akan dianggap berlebihan menjadi penghalang untuk berbicara jujur.

"Mereka mungkin takut ditolak atau merasa permintaannya terlalu berlebihan," ujar Tori-Lyn.

Para ahli menyarankan agar pasangan mulai membangun kesadaran dan kejujuran untuk mengatasi pola ini. Klarifikasi secara halus saat pasangan mulai memberikan kode dapat membantu mendorong terciptanya komunikasi yang lebih sehat dan terbuka.

Artikel terkait

Rekomendasi