Aturan Baru FIFA di Piala Dunia 2026: Pemain Dilarang Temui Pelatih Saat Kiper Cedera

Aturan Baru FIFA di Piala Dunia 2026: Pemain Dilarang Temui Pelatih Saat Kiper Cedera
Foto: Aturan Baru FIFA di Piala Dunia 2026: Pemain Dilarang Temui Pelatih Saat Kiper Cedera. (Illustration by Pexels)

FIFA telah menetapkan regulasi ketat yang akan diterapkan pada turnamen Piala Dunia 2026 mendatang. Salah satu aturan baru yang menjadi sorotan adalah larangan bagi para pemain untuk mendekati area teknik demi berkonsultasi dengan pelatih saat penjaga gawang sedang mendapatkan perawatan medis di lapangan.

Kepala Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, menegaskan bahwa wasit tidak akan lagi memberikan izin bagi pemain dari kedua tim untuk bergerak menuju bangku cadangan. Kebijakan ini diambil setelah mengamati adanya kecenderungan pemain yang memanfaatkan momen cedera kiper sebagai jeda taktis yang tidak semestinya.

Upaya Menghapus Jeda Taktis Terselubung

Pierluigi Collina menyampaikan pengumuman ini dalam sebuah lokakarya yang dihadiri oleh para pelatih dari 48 negara peserta Piala Dunia 2026. Dalam kesempatan tersebut, FIFA menegaskan komitmennya untuk lebih proaktif dalam menjaga integritas durasi permainan serta alur pertandingan.

Poin utama terkait larangan pemain saat kiper cedera adalah sebagai berikut:

  • Wasit akan melarang pemain dari kedua kesebelasan untuk menghampiri area bangku cadangan saat ada insiden medis di gawang.
  • Pemain diwajibkan tetap berada di dalam area permainan dan tidak boleh memanfaatkan momen tersebut untuk menerima instruksi taktik khusus.
  • Kebijakan ini bertujuan untuk mencegah pelatih mengubah strategi secara mendadak saat permainan seharusnya terhenti sementara untuk alasan medis.
  • Aturan ini terinspirasi dari keberhasilan implementasi serupa di liga sepak bola wanita profesional Amerika Serikat (NWSL).

Langkah ini diambil karena fenomena jeda taktis akibat cedera kiper sering kali dianggap merugikan tim yang sedang memiliki momentum. FIFA menilai bahwa kebiasaan pemain meninggalkan lapangan saat kiper cedera memberikan citra yang kurang baik bagi jalannya sebuah pertandingan profesional.

Revisi Protokol VAR dan Kasus di Masa Lalu

Selain aturan mengenai jeda taktis, International Football Association Board (IFAB) juga telah menyetujui perubahan pada protokol Video Assistant Referee (VAR). Perubahan ini memungkinkan wasit untuk meninjau kembali pelanggaran yang terjadi dalam fase serangan sesaat sebelum bola kembali dimainkan.

Isu mengenai kiper yang berpura-pura cedera untuk mengulur waktu memang telah menjadi topik hangat dalam beberapa tahun terakhir di kompetisi Eropa. Salah satu insiden yang memicu perdebatan terjadi pada November 2025 saat laga antara Manchester City melawan Leeds United.

Saat itu, Daniel Farke selaku pelatih Leeds United melontarkan tuduhan kepada kiper Manchester City, Gianluigi Donnarumma. Farke menilai Donnarumma sengaja menjatuhkan diri untuk mendapatkan bantuan medis agar ritme permainan Leeds yang sedang menekan bisa terhenti.

Langkah antisipasi yang akan dilakukan ofisial pertandingan meliputi hal-hal berikut:

Kondisi Pertandingan Tindakan Pemain Menurut Aturan Baru
Kiper Mendapat Perawatan Pemain harus tetap di posisi masing-masing atau berkumpul di lingkaran tengah.
Pemberian Instruksi Pelatih Hanya boleh dilakukan setelah pertandingan dilanjutkan, bukan saat kiper dirawat.
Pelanggaran Aturan Ofisial akan mengarahkan pemain kembali ke lapangan tanpa sanksi kartu kuning.

Tabel di atas merangkum bagaimana prosedur baru akan dijalankan untuk memastikan tidak ada tim yang mendapatkan keuntungan tidak adil. Meskipun IFAB masih terus mempelajari perubahan resmi dalam Laws of the Game, FIFA memilih untuk langsung mengujinya di panggung terbesar sepak bola dunia.

Pendekatan Humanis Tanpa Sanksi Disiplin

Meskipun FIFA bersikap tegas, Pierluigi Collina memastikan bahwa tidak akan ada hukuman kartu kuning bagi pemain yang mencoba mendekati pelatih. Fokus utama dari aturan ini adalah edukasi dan penertiban perilaku pemain di lapangan agar tidak terlihat canggung bagi penonton.

Collina berpendapat bahwa situasi di mana hanya wasit, fisioterapis, dan penjaga gawang yang berada di lapangan merupakan pemandangan yang aneh. Ia menginginkan agar pemain lain tetap siaga di dalam lapangan sehingga pertandingan bisa segera dilanjutkan dengan efisien setelah perawatan selesai.

“Seorang penjaga gawang memang memiliki hak untuk mendapatkan perawatan medis jika cedera, tetapi itu bukan alasan bagi pemain lain untuk beristirahat di pinggir lapangan,” ujar Collina. Ia menekankan bahwa durasi permainan yang bersih merupakan prioritas FIFA dalam menyongsong format baru Piala Dunia dengan 48 tim.

Beberapa federasi sepak bola juga telah diminta untuk melakukan uji coba aturan serupa sepanjang musim 2026-2027. Hal ini dilakukan guna mendapatkan data lebih mendalam mengenai efektivitas aturan tersebut dalam meminimalisir taktik mengulur waktu yang sering dikeluhkan oleh banyak pelatih.

Dengan adanya aturan ini, FIFA berharap kualitas hiburan di Piala Dunia 2026 tetap terjaga tanpa adanya gangguan taktik non-teknis yang merusak sportivitas. Seluruh tim peserta diharapkan segera beradaptasi dengan regulasi ini sebelum turnamen dimulai di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Artikel terkait

Rekomendasi