PT Astra International Tbk memproyeksikan transisi dari mobil bermesin pembakaran internal ke kendaraan listrik di Indonesia tidak akan berlangsung secara instan pada Kamis (23/4/2026). Diversitas karakter pasar domestik serta kesiapan infrastruktur yang belum merata menjadi faktor penentu laju elektrifikasi nasional.
Perkembangan teknologi kendaraan ramah lingkungan saat ini dinilai belum menjangkau seluruh wilayah secara seimbang. Akibatnya, berbagai jenis teknologi mesin diperkirakan akan tetap beroperasi secara berdampingan dalam memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat yang luas, sebagaimana dilansir dari Otomotif.
Direktur Astra, Gidion Hasan, memberikan penegasan mengenai eksistensi berbagai model mesin di pasar Indonesia saat ini. Penjelasan tersebut disampaikan dalam agenda Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perusahaan di Jakarta Pusat.
"Kami percaya bahwa mobil listrik, mobil hybrid maupun mesin konvensional akan terus eksis bersama-sama, karena ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia yang sangat luas dan beragam," ujar Gidion Hasan, Direktur Astra.
Data penjualan otomotif hingga kuartal I 2026 mencatatkan pertumbuhan signifikan pada sektor mobil listrik murni yang melampaui angka 30.000 unit. Capaian tersebut merepresentasikan pangsa pasar di kisaran 10 hingga 15 persen, meski kendaraan bermesin konvensional tetap memegang porsi mayoritas penjualan.
Tren penggunaan kendaraan listrik memang mulai menguat di kota-kota besar seiring dengan agresivitas peluncuran merek baru. Dukungan pemerintah melalui insentif serta pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) turut mempercepat adopsi teknologi ini di wilayah perkotaan.
Di luar wilayah pusat kota, kendaraan hybrid muncul sebagai solusi transisi yang dianggap lebih fleksibel bagi konsumen. Model ini dinilai lebih mudah diterima karena tidak memiliki ketergantungan penuh terhadap ketersediaan infrastruktur pengisian daya listrik di daerah dengan kondisi geografis beragam.
Astra kini mengimplementasikan strategi multi-teknologi dengan tetap memasarkan kendaraan mesin konvensional, hybrid, dan listrik murni secara simultan. Pendekatan ini diambil guna menjaga daya saing perusahaan sembari memantau kesiapan daya beli serta infrastruktur pendukung di masing-masing daerah.