PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) resmi mengoperasikan kembali KMP Ferrindo 5 pada Kamis (23/4/2026) guna memperkuat distribusi logistik antara Jawa dan Kalimantan. Langkah ini diambil setelah kapal tersebut sempat mengalami insiden kandas di alur keluar Pelabuhan Pontianak pada Minggu (12/4/2026) malam.
Optimalisasi layanan pada lintasan Long Distance Ferry (LDF) PatimbanÔÇôPontianak ini dinilai krusial untuk menjaga kelancaran rantai pasok nasional, seperti dilansir dari Money. Corporate Secretary ASDP Windy Andale menjelaskan bahwa rute tersebut mengubungkan pusat produksi dengan wilayah distribusi utama.
"Lintasan LDF PatimbanÔÇôPontianak memiliki peran strategis dalam menghubungkan pusat-pusat produksi di Jawa dengan wilayah distribusi di Kalimantan," kata Windy dalam keterangan resmi, Kamis (23/4/2026).
Pihak manajemen menekankan bahwa seluruh prosedur penanganan pasca-insiden dilakukan dengan disiplin tinggi terhadap standar operasional. Hal ini bertujuan untuk menjamin keberlanjutan layanan logistik yang aman bagi seluruh pengguna jasa.
"Karena itu, setiap tahapan penanganan kami jalankan secara terencana dan disiplin terhadap standar operasional, guna memastikan layanan logistik tetap berjalan aman, terkendali, dan berkelanjutan," lanjut Windy.
Insiden kandasnya KMP Ferrindo 5 terjadi akibat tekanan arus pasang yang kuat dan angin kencang yang mendorong kapal keluar dari jalur pelayaran. Kapal tersebut terhenti di sisi utara alur yang memiliki dasar perairan berlumpur, sehingga memerlukan penanganan sistematis sebelum dinyatakan layak berlayar kembali.
Pemeriksaan menyeluruh dilakukan terhadap semua aspek teknis guna memastikan kondisi kapal tetap optimal sebelum diberangkatkan menuju Patimban. Otoritas terkait telah menerbitkan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) setelah kapal dinyatakan memenuhi seluruh regulasi keselamatan.
"Setelah dinyatakan memenuhi ketentuan keselamatan dan memperoleh Surat Persetujuan Berlayar (SPB), kapal diberangkatkan menuju Patimban pada Kamis (23/4/2026), sehingga kembali memperkuat konektivitas logistik antarwilayah," jelas Windy.
Evaluasi operasional juga dilakukan secara internal melalui pertemuan keselamatan berkala untuk menyusun panduan kerja yang lebih terpadu. General Manager ASDP Cabang Pontianak Adolf Enoch menyebutkan bahwa dukungan peralatan teknis dan tugboat menjadi kunci efektivitas pelepasan kapal.
"Seluruh kesiapan teknis, termasuk optimalisasi peralatan dan dukungan tugboat, dipastikan dalam kondisi prima sehingga proses pelepasan kapal dapat berlangsung efektif, terukur, dan sesuai standar keselamatan," jelas Adolf.
Selama masa penanganan insiden, ASDP tetap memberikan pelayanan kepada penumpang melalui proses evakuasi yang terkoordinasi dan penyediaan fasilitas rumah singgah. KMP Ferrindo 5 sendiri memiliki spesifikasi khusus untuk mengangkut sekitar 40 unit kendaraan campuran dan 60 penumpang terbatas bagi pengemudi.
"Peran ini menjadikan kapal sebagai bagian penting dalam menjaga kelancaran distribusi barang, stabilitas pasokan, serta konektivitas ekonomi antara Pulau Jawa dan Kalimantan," ungkap Adolf.
ASDP berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan penyeberangan melalui penguatan koordinasi lintas sektor. Konsistensi dalam penerapan standar keselamatan dipandang sebagai fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi di wilayah yang terhubung.
"Melalui penerapan standar keselamatan yang konsisten, penguatan koordinasi lintas pihak, serta peningkatan kualitas layanan secara berkesinambungan, ASDP memastikan setiap pelayaran tidak hanya menghubungkan wilayah, tetapi juga menjaga kesinambungan distribusi logistik yang menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi," tegas Adolf.