Komunitas Indonesia Architects Land Rover Community (IARC) memamerkan deretan mobil Land Rover Defender berbagai generasi dalam balutan instalasi bertajuk Tetenger Luar di BSD. Struktur paviliun tiup ini menjadi simbol penyatuan elemen alam, petualangan, budaya, serta arsitektur.
Sebagaimana dilansir dari Otomotif, paviliun tersebut dirancang sebagai peneduh sekaligus manifesto visual yang tegas bagi pengunjung pameran arsitektur. Mobil-mobil ikonik berkelir putih tersebut dipilih untuk menonjolkan estetika desain yang fungsional di pelataran kedai kopi lokasi acara.
Seorang arsitek ternama berinisial AM menjelaskan bahwa keterikatan emosional para perancang bangunan terhadap Land Rover klasik sering kali bermula dari memori masa kecil. Ia mengen kenangan indah saat berada di dalam kabin kendaraan tersebut bersama keluarganya.
"Dulu waktu kecil, ayah saya punya Land Rover tipe pendek. Kami berlima duduk di belakang, saling berhadapan. Memori menyanyi bersama di dalam kabin itu sangat indah, itu alasan emosional saya," ucap AM.
Prinsip esensialisme dalam desain menjadi alasan utama di balik rasa hormat para arsitek terhadap mobil asal Inggris tersebut. AM menilai kesederhanaan komponen mobil mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung dalam arsitektur kontemporer di Indonesia.
"Land Rover itu sangat esensial. Yang diperlukan saja yang dibikin, sisanya tidak ada. Itulah mengapa arsitek sangat respek pada mobil ini," tutur AM.
Hubungan antara dunia rancang bangun dengan Land Rover bahkan diklaim telah ada sejak era Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. AM menyebut terdapat kutipan populer di komunitasnya yang mengaitkan status profesional seorang arsitek dengan kepemilikan mobil penjelajah ini.
Bung Karno, yang juga seorang arsitek, dikabarkan pernah memberikan pernyataan mengenai standarisasi profesi arsitek melalui kepemilikan kendaraan tersebut. Hal ini memberikan nilai historis tersendiri bagi para anggota komunitas IARC dalam mengoleksi Land Rover.
Kekaguman komunitas ini juga ditujukan kepada Tan Tjiang Ay, arsitek legendaris berusia 86 tahun yang masih aktif mengendarai Land Rover. Kegemaran ini kemudian diteruskan oleh putranya, Tan Tik Lam, yang turut aktif dalam kegiatan komunitas.
Meski memiliki nilai filosofis tinggi, kepemilikan mobil klasik ini diakui penuh dengan tantangan teknis yang unik. AM menceritakan insiden saat mereka melakukan perjalanan ke Bromo dan mencoba memodifikasi mesin untuk menandingi kendaraan lain di medan berat.
"Tiba-tiba bunyi duak! dan berasap. Akhirnya kami gagal sampai ke kawah," kenang AM, pemilik Range Rover P38 tersebut.
Kegagalan mencapai kawah tersebut terjadi karena mesin hasil modifikasi silang yang mereka gunakan justru mengalami kerusakan fatal. Melalui pameran ini, para arsitek ingin menegaskan kembali bahwa desain abadi adalah desain yang jujur, esensial, dan tampil apa adanya.