Arsenal harus merelakan gelar juara Liga Champions setelah mengalami kekalahan yang menyakitkan di partai final musim 2025/2026. Pertandingan yang berlangsung di Puskas Arena tersebut berakhir dengan kemenangan Paris Saint-Germain (PSG) melalui drama adu penalti.
The Gunners kalah dengan skor 4-3 dalam babak tos-tosan setelah bermain imbang 1-1 hingga waktu normal berakhir pada Minggu dini hari, 31 Mei 2026. Meski menelan pil pahit, salah satu bintang mereka, Kai Havertz, justru berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah kompetisi elit Eropa ini.
Rekor Bersejarah Kai Havertz di Final Liga Champions
Pemain berkebangsaan Jerman ini tercatat sebagai pesepak bola pertama yang mampu mencetak gol di final Liga Champions dengan membela dua klub Inggris yang berbeda. Havertz membawa Arsenal unggul lebih dulu pada menit keenam dalam laga tersebut.
Sebelum mencatatkan namanya di papan skor untuk Arsenal, Havertz juga pernah melakukan hal serupa saat masih berseragam Chelsea pada musim 2020/2021. Gol tunggalnya kala itu mengantarkan The Blues meraih gelar juara setelah mengalahkan Manchester City di Portugal.
Daftar pemain yang mencetak gol di final Liga Champions bersama dua klub berbeda:
- Cristiano Ronaldo: Pemain asal Portugal ini mencatatkan gol di partai final saat membela Manchester United dan raksasa Spanyol, Real Madrid.
- Mario Mandzukic: Penyerang asal Kroasia tersebut pernah mencetak gol di final Liga Champions saat memperkuat Juventus dan Bayern Munchen.
- Kai Havertz: Menjadi pemain terbaru dalam daftar ini sekaligus menjadi yang pertama melakukannya dengan dua tim berbeda dari Liga Inggris.
Pencapaian ini menempatkan Havertz dalam jajaran pemain elit dunia yang memiliki ketajaman konsisten di pertandingan paling krusial. Keberhasilannya menyamai rekor legenda seperti Ronaldo dan Mandzukic membuktikan kualitasnya sebagai pemain spesialis laga besar.
Kronologi Terciptanya Gol Kai Havertz
Gol pembuka Arsenal tercipta melalui sebuah skema yang cukup unik dan melibatkan keberuntungan serta ketenangan dari seorang Kai Havertz. Berawal dari sapuan bola yang dilakukan oleh kapten PSG, Marquinhos, yang justru membentur tubuh Leandro Trossard.
Bola liar tersebut memantul ke area belakang pertahanan PSG yang kemudian dikejar dengan cepat oleh Havertz. Pemain bernomor punggung 29 ini membawa bola dari lini tengah hingga merangsek masuk ke sisi kanan area penalti lawan.
Meskipun berada dalam sudut yang sangat sempit, Havertz tetap tenang dan tidak membuang peluang emas tersebut. Ia melepaskan tendangan keras yang berhasil menggetarkan jala gawang PSG dan membuat pendukung Arsenal bersorak merayakan keunggulan cepat tersebut.
Sayangnya, aksi individual gemilang Havertz yang membawa Arsenal memimpin sejak menit awal tidak cukup untuk mengamankan trofi juara. PSG mampu membalas dan akhirnya memenangkan pertandingan lewat babak adu penalti yang penuh tekanan.
Statistik dan Fakta Menarik Final Liga Champions 2026
Pertandingan final ini tidak hanya menyisakan rekor individu bagi Havertz, namun juga beberapa catatan menarik bagi kedua tim. Berikut adalah ringkasan data penting terkait pertandingan tersebut:
| Kategori Pertandingan | Detail Informasi |
|---|---|
| Skor Akhir (Waktu Normal) | Arsenal 1 - 1 PSG |
| Hasil Adu Penalti | 4 - 3 untuk Kemenangan PSG |
| Lokasi Pertandingan | Puskas Arena, Budapest |
| Pencetak Gol Arsenal | Kai Havertz (Menit ke-6) |
| Status Rekor Havertz | Pemain Pertama Cetak Gol Final UCL di 2 Klub Inggris Berbeda |
Data di atas merangkum bagaimana jalannya laga yang berakhir dengan kemenangan dramatis bagi wakil Prancis tersebut. Meskipun kalah, penampilan Arsenal di sepanjang turnamen ini tetap mendapat apresiasi karena berhasil mencapai final tanpa terkalahkan sebelumnya.
Sorotan Lain dari Kekalahan Arsenal
Mikel Arteta, pelatih Arsenal, kini menjadi sorotan setelah keputusan pemilihan eksekutor penaltinya dipertanyakan oleh banyak pihak. Salah satu yang paling dibahas adalah penunjukan Gabriel Magalhaes sebagai algojo kelima yang gagal menunaikan tugasnya.
Kekalahan ini terasa semakin pahit karena Arsenal sebenarnya mendapatkan bonus finansial tertinggi sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Liga Champions. Namun, pundi-pundi uang tersebut tentu tidak sebanding dengan trofi "Si Kuping Besar" yang sudah di depan mata.
Di sisi lain, media sosial langsung diramaikan oleh ejekan dari pendukung Chelsea terhadap kekalahan rival sekota mereka ini. Penggemar The Blues seolah tidak rela jika Arsenal menyamai pencapaian gelar juara Eropa yang pernah mereka raih bersama Havertz.
Bagi PSG, kemenangan ini membawa mereka sejajar dengan klub-klub raksasa seperti Real Madrid dan Ajax dalam hal konsistensi di kancah Eropa. Keberhasilan ini sekaligus memutus kutukan PSG yang selama bertahun-tahun selalu gagal meraih gelar juara meskipun memiliki skuad bintang.
Sementara itu, Kai Havertz kini harus fokus pada masa depannya bersama tim nasional Jerman menjelang ajang internasional lainnya. Meski mencatatkan rekor pribadi yang prestisius, kegagalan tim secara keseluruhan tetap menjadi beban emosional bagi sang pemain.
Tragedi penalti di final 2026 ini akan selalu dikenang sebagai salah satu momen paling dramatis bagi publik London Utara. Mereka harus menunggu lebih lama lagi untuk bisa mencicipi gelar juara kasta tertinggi antarklub Eropa tersebut.