Arsenal resmi mengakhiri penantian panjang selama 22 tahun untuk kembali merajai Premier League. Skuad asuhan Mikel Arteta mengunci gelar juara Liga Inggris musim 2025/2026, sekaligus menghentikan puasa trofi liga yang membayangi klub sejak era Invincibles pada tahun 2004 silam.
Keberhasilan mengamankan takhta tertinggi kompetisi sepak bola Inggris ini diraih setelah melewati persaingan yang panjang dan ketat. Seperti dikutip dari Suara, pencapaian ini sekaligus membungkam kritik yang selama tiga musim beruntun melabeli Arsenal sebagai tim yang hampir juara karena selalu finis di posisi runner-up.
Mikel Arteta membawa perubahan besar dengan mengutamakan organisasi lini belakang yang kokoh serta memaksimalkan situasi bola mati. Pendekatan ini terbukti efektif membawa The Gunners menuju tangga juara, meskipun dinilai kurang atraktif bagi sebagian penonton netral.
Kedisiplinan taktik tersebut tecermin dari catatan pertahanan yang impresif di liga domestik musim ini. Arsenal menjadi tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit karena hanya kemasukan 26 gol dari total 36 pertandingan yang sudah dimainkan.
Tidak hanya itu, klub asal London Utara ini juga membukukan 19 clean sheet sepanjang musim berjalan. Arsenal tercatat menjadi tim yang paling sering memetik kemenangan tipis lewat skor 1-0, yakni sebanyak delapan kali pertandingan.
Dominasi Set-Piece dan Target Kompetisi Eropa
Ketajaman Arsenal dalam memanfaatkan peluang bola mati juga menjadi kunci pembeda yang sangat menonjol. Skuad asuhan Arteta sukses memproduksi 24 gol dari skema set-piece, dengan 18 gol di antaranya lahir melalui eksekusi sepak pojok.
Secara keseluruhan, The Gunners mengoleksi 35 gol dari situasi bola mati di semua kompetisi musim ini. Catatan produktivitas tersebut mendekati rekor tim-tim elite yang pernah ditangani oleh pelatih legendaris Jose Mourinho.
Keberhasilan ini memicu harapan baru bagi para suporter untuk melihat tim kesayangan mereka kembali mendominasi kancah domestik dan Eropa. Tantangan Arteta selanjutnya adalah memadukan kedisiplinan lini belakang dengan kreativitas para pemain seperti Martin Odegaard, Bukayo Saka, dan Kai Havertz.
Posisi Arsenal kini dinilai ideal untuk membangun dinasti baru di Inggris, terutama di tengah situasi rival utama yang sedang dalam masa transisi. Setelah memastikan trofi Premier League aman di tangan, fokus utama Arsenal langsung beralih ke sisa kompetisi Eropa demi menyempurnakan pencapaian sejarah mereka.