Arsari Tambang Bangun Tin Research Center di Bangka Belitung

Arsari Tambang Bangun Tin Research Center di Bangka Belitung
Foto: Ilustrasi Arsari Tambang Bangun Tin Research Center di Bangka Belitung.

Arsari Tambang mengambil langkah strategis dengan mengalihkan fokus dari penambangan mentah menuju pengembangan laboratorium. Langkah ini diambil demi menangkap peluang dari lonjakan kebutuhan sektor semikonduktor global.

Seperti dilansir dari Investortrust, CEO Arsari Tambang Aryo Djojohadikusumo mengumumkan bahwa perusahaan akan mendirikan fasilitas Tin Research Center khusus di Kepulauan Bangka Belitung.

Inisiatif tersebut menjadi langkah hilirisasi tingkat lanjut di Indonesia. Arsari Tambang menyasar produksi solder paste dengan tingkat kepresisian tinggi yang dibutuhkan oleh raksasa teknologi dunia seperti Nvidia dan Intel.

Melalui riset mandiri dan formulasi kimia khusus, Indonesia kini berupaya memposisikan diri sebagai mata rantai bernilai tinggi dalam industri kecerdasan buatan (AI) serta pembuatan chip global.

Selepas menghadiri konferensi MetConnex 2026 di Jakarta, Aryo Djojohadikusumo menyatakan bahwa hilirisasi harus mencakup manufaktur tingkat lanjut. Solder paste diidentifikasi sebagai produk bernilai tinggi yang menghubungkan mineral Indonesia dengan Silicon Valley.

"We found that one of the largest added values in the tin industry is solder paste. This solder paste is used for semiconductors utilized by Nvidia, Intel, and others," kata Aryo.

Demi memenuhi standar ketat dari para raksasa teknologi dunia, Arsari Tambang memilih berinvestasi besar pada kekayaan intelektual lokal.

"Because this has never been built in Indonesia before, Arsari Tambang is initiating the Tin Research Center in Bangka Belitung," ujar Aryo.

Investasi Senilai 25 Juta Dolar AS

Pusat riset di Bangka Belitung ini bakal menjadi pusat inovasi bagi ekosistem industri yang lebih luas. Anak usaha Arsari Tambang, PT Solder Tin Andalan Indonesia (Stania), telah berkomitmen mengucurkan total investasi Rp 400 billion atau setara 25.1 million dolar AS untuk fasilitas produksi di Batam.

Chairman Arsari Tambang Hashim Djojohadikusumo sebelumnya menyebutkan bahwa pabrik di Batam ditargetkan memproduksi 2,000 tons per tahun pada tahap awal. Fasilitas ini diproyeksikan menghasilkan perputaran omzet hingga 75.4 million dolar AS atau sekitar Rp 1.2 trillion.

"Our goal is export; we are confident we will be competitive thanks to the support of the regional government and the skilled workforce in Batam," kata Hashim saat peletakan batu pertama pabrik.

Pengembangan Kekayaan Intelektual Nasional

Aryo menambahkan bahwa kontribusi dari pusat riset ini melampaui sekadar hitungan angka di laporan keuangan. Pengembangan teknologi secara mandiri dilakukan untuk memastikan kepemilikan kekayaan intelektual tetap berada di tangan dalam negeri.

"This is our contribution not just for downstreaming, but also for investment in R&D and in intellectual property that will belong to the nationÔÇÖs children," ujar Aryo.

Proyek ini menandai fase perubahan bagi perusahaan domestik untuk bertransformasi dari sekadar penyedia tenaga kerja menjadi pemilik teknologi di pasar elektronik global.

Artikel terkait

Rekomendasi