Dinamika kekuasaan politik yang terbatas oleh durasi waktu memicu munculnya politik kecemasan bagi pemegang jabatan di tengah ancaman perebutan posisi oleh aktor lain pada Selasa (21/4/2026). Fenomena ini menunjukkan bahwa masa jabatan bukan merupakan ruang ekspansi tanpa batas melainkan lorong waktu yang terus menyempit, sebagaimana dilansir dari Nasional.
Kekuasaan dinilai selalu bergerak menuju titik akhir sejak detik pertama pelantikan dilakukan karena waktu menjadi oposisi paling konsisten yang tidak dapat dinegosiasikan. Kondisi ini menciptakan fase produktif yang sangat pendek, di mana efektivitas kepemimpinan biasanya hanya terjadi pada sepertiga masa jabatan setelah melewati tahap adaptasi dan stabilisasi.
Filsuf Hannah Arendt memandang kekuasaan sebagai sebuah proses yang terus berputar menuju ujung dan akan hilang jika hanya digunakan untuk menghabiskan waktu. Penegasan ini menitikberatkan pada pentingnya pengisian waktu dengan karya bernilai agar kekuasaan tersebut dapat melampaui durasi formalnya.
"Kekuasaan bukan sebagai dominasi semata, tetapi lorong waktu yang terus berputar menuju ujung," kata Hannah Arendt, Filsuf.
Kekuasaan yang gagal memberikan kontribusi nyata dianggap akan lenyap seiring berjalannya waktu. Sebaliknya, upaya mempertahankan posisi merupakan dorongan natural yang diakui dalam berbagai teori politik klasik maupun modern.
"Kekuasaan yang hanya menghabiskan waktu, akan hilang bersama waktu itu sendiri," ujar Hannah Arendt, Filsuf.
Michel Foucault menyebutkan bahwa kekuasaan memiliki kecenderungan untuk selalu mereproduksi dirinya sendiri. Hal ini sejalan dengan pandangan Thomas Hobbes mengenai tuntutan perpanjangan masa jabatan demi menjamin keamanan di masa depan.
"Kekuasaan selalu ingin mereproduksi dirinya," kata Michel Foucault, Filsuf.
Ketidakpastian masa depan mendorong aktor politik untuk terus mencari legitimasi agar posisinya tetap aman. Hobbes menekankan bahwa keamanan hari ini tidak menjadi jaminan bagi kondisi di hari esok.
"Karena kekuasaan hari ini tidak menjamin keamanan besok, maka kekuasaan menuntut diperpanjang," kata Thomas Hobbes, Filsuf.
Dalam kajian ilmu politik, fenomena kampanye permanen sering terjadi saat kebijakan publik hanya dijadikan alat untuk kepentingan elektoral semata. Penguasa juga kerap dibayangi rasa takut kehilangan jabatan yang berujung pada konsolidasi berlebihan dan munculnya loyalitas semu di lingkaran internal.
Tekanan terhadap penguasa tidak hanya datang dari dalam, tetapi juga dari luar melalui pihak-pihak yang aktif membangun narasi tandingan. Persaingan ini semakin rumit dengan munculnya politik nostalgia yang menjual kenangan masa lalu untuk menarik simpati publik emosional.
Mantan elite politik sering kali menggunakan memori publik terkait stabilitas dan keberhasilan masa lalu sebagai modal untuk kembali berkuasa. Meskipun konteks geopolitik dan struktur sosial telah berubah total, narasi kerinduan sering kali lebih kuat dibandingkan harapan baru yang ditawarkan pemain baru.