Menitipkan doa kepada orang yang berangkat naik haji menjadi tradisi yang melekat di masyarakat karena keyakinan akan keutamaan berdoa di tempat suci. Masyarakat berharap doa yang dipanjatkan di tanah haram memiliki peluang lebih besar untuk dikabulkan oleh Allah SWT.
Dilansir dari Detikcom, terdapat sejumlah aturan dan adab yang perlu diperhatikan agar praktik menitipkan doa ini tidak menyimpang dari ajaran agama. Ulama menegaskan bahwa hal tersebut diperbolehkan selama niat tetap terjaga dan tidak meyakini ada kekuatan selain Allah yang mengabulkan doa.
Saat melepas keberangkatan jemaah haji, umat Islam dianjurkan mendoakan keselamatan dan kelancaran ibadah mereka selama di Tanah Suci. Selain mendoakan, diperbolehkan juga meminta jemaah untuk menyertakan nama kita dalam rangkaian doa mereka.
Praktik ini memiliki landasan dalam sejarah Islam ketika Umar bin Khattab hendak melaksanakan umrah. Saat itu, Nabi Muhammad SAW meminta agar didoakan dan disertakan dalam setiap permohonan yang dipanjatkan oleh Umar.
"Ï╣┘Ä┘å ϺϿ┘å┘É Ï╣┘Å┘à┘ÄÏ▒┘Ä Ï╣┘Ä┘å Ï╣┘à┘ÄÏ▒┘Ä Ïú┘Ä┘å┘æ┘ç┘ŠϺÏ│┘ÆÏ¬┘ÄÏú┘ÆÏ░┘Ä┘å┘Ä Nabi┘æ ÏÁ┘ä┘ë Ϻ┘ä┘ä┘ç Ï╣┘ä┘è┘ç ┘êÏ│┘ä┘à ┘ü┘è Ϻ┘äÏ╣┘Å┘à┘ÆÏ▒┘ÄÏ®┘É ┘ü┘éϺ┘ä┘Ä ┘è┘ÄϺ Ïú┘ÄÏ«┘É┘è ÏúÏ┤┘ÆÏ▒┘É┘â┘Æ┘å┘ÄϺ ┘ü┘è Ï»┘ÅÏ╣┘ÄϺϪ┘É┘â┘Ä ┘ê┘Ä┘äϺ┘Ä Ï¬┘Ä┘å┘ÆÏ│┘Ä┘å┘ÄϺ"
Artinya: Dari Ibnu Umar dari Umar, sesungguhnya Umar minta izin kepada Nabi melakukan umrah, maka Nabi bersabda: Wahai saudaraku sertakan kami dalam doamu dan jangan lupa mendoakan kami. (HR Tirmidzi).
Adab Menitipkan Doa agar Tidak Memberatkan
Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Buya Yahya, memberikan penjelasan mengenai etika dalam menitipkan doa. Beliau menekankan pentingnya untuk tidak membebani jemaah yang sedang fokus beribadah.
Permintaan doa sebaiknya disampaikan secara lisan dan sederhana tanpa perlu memberikan daftar tertulis yang sangat panjang. Hal ini bertujuan agar jemaah haji tidak merasa bingung atau terganggu konsentrasinya saat berada di tempat-tempat mustajab.
"Minta doa boleh, tapi jangan repotkan, doanya satu gembok begitu, tidak kebaca nanti bingung. Serahkan suruh doain gitu saja. Kalau suruh baca (kertas), tidak harus seperti itu, ngerepoti itu," ujar Buya Yahya dikutip dari tayangan Al Bahjah TV.
Buya Yahya mengingatkan bahwa satu orang yang menitipkan banyak doa saja sudah cukup menyita perhatian, apalagi jika dilakukan oleh banyak orang. Oleh karena itu, cukup meminta doa secara umum, seperti permohonan keselamatan atau agar dimudahkan menyusul ke Baitullah.
Larangan Menitip Hadiah atau Oleh-oleh
Selain perihal doa, Buya Yahya juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang sering menitipkan barang atau meminta oleh-oleh. Kebiasaan ini dinilai dapat menjadi beban berat bagi jemaah, terutama terkait dengan keterbatasan kuota bagasi pesawat.
Permintaan yang dianggap kecil oleh pemberi titipan bisa menjadi tumpukan beban jika dilakukan oleh banyak kerabat. Hal ini berpotensi merusak kekhusyukan ibadah dan terkadang membuat jemaah merasa tidak nyaman hingga terpaksa memberikan alasan yang tidak jujur.
Sebagai bentuk dukungan yang benar, umat Islam justru disarankan untuk memberikan bantuan atau bekal kepada mereka yang akan berangkat. Fokus utama adalah memberikan kelapangan bagi jemaah agar dapat beribadah dengan tenang tanpa tuntutan materi dari tanah air.
"Jangan minta hadiah, minta doa, selesai. Kemudian Anda kasih duit. Kami ingin menghilangkan budaya gampang orang minta," kata Buya Yahya. Jika jemaah memberikan hadiah atas inisiatif sendiri sekembalinya dari haji, barulah barang tersebut boleh diterima sebagai bentuk keramahan.