Acha Septriasa Dobrak Stigma di Film Suamiku Lukaku: Perempuan Berhak Punya Ambisi Tinggi di 2026

Acha Septriasa Dobrak Stigma di Film Suamiku Lukaku: Perempuan Berhak Punya Ambisi Tinggi di 2026
Foto: Acha Septriasa Dobrak Stigma di Film Suamiku Lukaku: Perempuan Berhak Punya Ambisi Tinggi di 2026. (Illustration by Pexels)

Acha Septriasa membawa pulang banyak pelajaran berharga setelah menyelesaikan proses syuting film terbarunya yang berjudul Suamiku Lukaku. Film yang digarap oleh sutradara Sharad Sharan dan Viva Westi dengan latar lokasi di Pangkal Pinang ini memberikan perspektif baru baginya mengenai kehidupan.

Salah satu poin utama yang ia soroti adalah tantangan perempuan dalam menghadapi berbagai stigma sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Sebagai seorang ibu, Acha merasa isu mengenai batasan ambisi bagi kaum hawa sangat relevan dengan realita yang ia alami sendiri.

Menolak Stigma Perempuan Tanpa Ambisi

Acha Septriasa mengungkapkan bahwa ia sering menemui anggapan negatif di masyarakat yang menyebut perempuan sebaiknya tidak terlalu menonjol. Stigma yang paling mengganggunya adalah pandangan bahwa perempuan tidak boleh memiliki ambisi yang besar dalam hidupnya.

Menurut pemeran utama film Suamiku Lukaku ini, ambisi justru merupakan elemen penting yang memberikan semangat bagi perempuan untuk terus berkembang. Tanpa adanya ambisi, seseorang akan kesulitan dalam memetakan cita-cita dan memaksimalkan potensi diri yang mereka miliki.

Pandangan Acha Septriasa mengenai pentingnya tujuan hidup bagi perempuan:

  • Ambisi membantu perempuan merasa lebih berharga dan memiliki arah yang jelas dalam menjalani keseharian.
  • Memiliki cita-cita berfungsi sebagai pegangan hidup agar batin tidak terasa kosong di tengah kesibukan melayani keluarga.
  • Menekan ambisi perempuan dianggap sebagai langkah yang keliru karena menghambat proses pengembangan kualitas diri.
  • Tujuan hidup yang kuat memberikan energi tambahan bagi perempuan untuk berkontribusi lebih besar di lingkungan sekitarnya.

Dalam wawancara eksklusif di Gedung KLY Jakarta Pusat, Acha menekankan bahwa setiap orang sudah banyak memberi dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, memiliki sebuah tujuan atau purpose membuat seseorang tetap tegak berdiri meski harus membagi fokus ke banyak hal sekaligus.

Keseimbangan Antara Karier dan Peran Ibu

Acha menjelaskan bahwa ambisi yang ia maksud tidak selalu berkaitan dengan hal-hal yang muluk atau pencapaian karier yang tinggi. Baginya, ambisi bisa tercermin dalam komitmen penuh untuk hadir secara nyata bagi sang buah hati di tengah kesibukan pekerjaannya.

Ia menyadari banyak orang beranggapan bahwa sebagai artis yang sibuk, dirinya mustahil bisa mengurus anak secara mandiri. Namun, Acha dengan tegas menepis anggapan tersebut dan membuktikan bahwa ia tetap memprioritaskan peran sebagai seorang ibu di atas segalanya.

Aktivitas Keseharian Fakta yang Dilakukan Acha Septriasa
Menyiapkan Konsumsi Anak Memasak bekal sekolah sendiri dari Senin hingga Jumat tanpa membeli.
Transportasi Sekolah Mengantar anak ke sekolah secara langsung tanpa bantuan sopir pribadi.
Interaksi di Dapur Belajar memasak menu khusus sesuai permintaan anak untuk makan malam.
Kehadiran Emosional Memastikan diri selalu hadir dalam momen-momen penting tumbuh kembang anak.

Tabel di atas menunjukkan bahwa ambisi Acha justru menyala ketika ia ingin memberikan yang terbaik bagi putrinya. Baginya, kebahagiaan sejati muncul saat ia mampu memenuhi keinginan sederhana sang anak, seperti memasakkan menu idaman di dapur rumahnya sendiri.

Tantangan Akting dan Refleksi Diri

Membahas soal keterlibatannya dalam film Suamiku Lukaku, Acha mengenang salah satu adegan yang dirasa paling sulit dan menguras tenaga. Menariknya, kesulitan tersebut bukan muncul saat ia beradegan sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan oleh karakter Irfan yang diperankan Baim Wong.

Tantangan terberat justru muncul saat ia harus beradu akting dengan aktris cilik Azkya Mahira yang berperan sebagai anaknya di film tersebut. Acha mengakui bahwa kondisi emosionalnya sedang tidak stabil saat proses syuting berlangsung, yang membuatnya merasa sangat emosional.

Acha merasa wajah Azkya sangat mirip dengan anak kandungnya sendiri, sehingga batasan antara dunia film dan kenyataan sempat terasa kabur. Karakter Amina yang diperjuangkannya di film tersebut digambarkan sebagai sosok ibu yang berjuang keras demi kesehatan dan kebaikan putrinya, Nadia.

Kemiripan situasi ini membuat Acha terus melakukan refleksi diri apakah dirinya sudah menjadi orang tua yang baik bagi anak perempuannya di dunia nyata. Ia berharap apa yang ia lakukan setiap hari bisa menjadi teladan yang positif bagi pertumbuhan sang buah hati di masa depan.

Film Suamiku Lukaku sendiri tidak hanya sekadar hiburan, namun juga membawa misi sosial dengan menyuarakan kampanye stop KDRT di berbagai kota. Melalui peran Amina, Acha Septriasa ingin menunjukkan bahwa luka yang tidak terlihat secara fisik seringkali memiliki dampak yang sangat nyata bagi korbannya.

Artikel terkait

Rekomendasi