Skuad AC Milan dijadwalkan menjalani pemusatan latihan intensif atau ritiro di kamp Milanello mulai Kamis (14/5/2026) sebagai respons atas kemerosotan performa tim di Liga Italia Serie A. Kebijakan ini diambil setelah klub hanya meraih tujuh poin dari delapan pertandingan terakhir yang membuat posisi mereka turun ke peringkat keempat.
Dilansir dari Bola, perolehan 67 poin milik Rossoneri saat ini telah disamai oleh AS Roma yang menempati peringkat kelima. Selain ancaman keluar dari zona Liga Champions, tim asuhan Massimiliano Allegri tersebut kini hanya terpaut dua poin dari Como 1907 yang berada di posisi keenam klasemen sementara.
Langkah ritiro ini diterapkan sebagai bentuk sanksi sekaligus upaya manajemen untuk mengembalikan fokus pemain menjelang pertandingan melawan Genoa. Namun, kondisi internal klub dilaporkan sedang memanas akibat ketegangan antara jajaran pelatih dan petinggi manajemen di luar lapangan hijau.
Laporan media Italia menyebutkan bahwa Massimiliano Allegri dan Direktur Olahraga Igli Tare kemungkinan besar akan meninggalkan Milan pada akhir musim. Kondisi serupa juga menerpa CEO Giorgio Furlani dan Penasihat Senior Zlatan Ibrahimovic yang posisinya mulai dipertanyakan setelah kekalahan 2-3 dari Atalanta.
Isu konflik personal antara Allegri dan Ibrahimovic disebut menjadi salah satu faktor ketidakstabilan di dalam tubuh klub. Tekanan publik pun meningkat seiring munculnya petisi online dari para pendukung yang menuntut pengunduran diri Giorgio Furlani dengan dukungan lebih dari 50.000 tanda tangan.
Igli Tare yang baru menjabat selama satu tahun diprediksi tidak akan bertahan dan kemungkinan besar akan digantikan oleh Tony DÔÇÖAmico. DÔÇÖAmico, yang saat ini menjabat sebagai CEO Atalanta, dikabarkan telah mendapatkan tawaran untuk mengambil peran dengan wewenang lebih besar di AC Milan musim depan.
Masuknya DÔÇÖAmico berpotensi mereduksi pengaruh Furlani dan Ibrahimovic dalam pengambilan kebijakan strategis klub. Di sisi lain, Ibrahimovic diprediksi tetap memiliki peluang untuk memperkuat pengaruhnya dengan memanfaatkan basis dukungan dari para suporter garis keras atau ultras.