PT ABM Investama Tbk. (ABMM) memproyeksikan pertumbuhan pendapatan melalui optimalisasi dua aset tambang yang baru diakuisisi, yakni PT Nirmala Coal Nusantara (NCN) dan PT Piranti Jaya Utama (PJU). Perusahaan menargetkan pendapatan sebesar US$1 miliar pada tahun 2026, sebagaimana dilaporkan oleh Market pada Rabu (29/4).
Group Head of Corporate Finance & Treasury ABMM Mohamad Ditto Ananta Nugraha memaparkan bahwa operasional komersial NCN di Meulaboh telah dimulai sejak Februari 2026 dengan target kontribusi 2 juta ton hingga akhir tahun. Sementara itu, PJU di Kalimantan Tengah dijadwalkan memulai penjualan perdana pada kuartal I/2027 dengan kapasitas produksi mencapai 5 juta ton per tahun.
"Kapasitas NCN Antara 2 jutaÔÇö2,5 juta ton per tahun. Pasarnya 25% domestik, selebihnya 75% ekspor ke India," ujarnya Mohamad Ditto Ananta Nugraha, Group Head of Corporate Finance & Treasury ABMM.
Ditto menjelaskan bahwa karakteristik kalori premium pada produk PJU akan diarahkan untuk memenuhi permintaan pasar Asia Timur yang memerlukan spesifikasi tinggi. Strategi ini diharapkan memperkuat posisi keuangan perseroan di tengah fluktuasi pasar energi global.
"NCN dan PJU akan menjadi lokomotif pendapatan ABMM ke depan," tuturnya Mohamad Ditto Ananta Nugraha, Group Head of Corporate Finance & Treasury ABMM.
Mengenai operasional kontraktor tambang, manajemen memastikan tidak ada kendala meskipun terdapat isu pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Klien-klien besar, termasuk PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS), tetap menjalankan aktivitas produksi sesuai dengan target yang ditetapkan.
"Semua klien RKAB disetujui sesuai target. Makanya kami tetap optimistis mencapai pendapatan dan laba sesuai target," imbuhnya Mohamad Ditto Ananta Nugraha, Group Head of Corporate Finance & Treasury ABMM.
Direktur ABMM Hans Manoe menyatakan komitmen perusahaan dalam menjaga nilai tambah bagi pemegang saham melalui pembagian dividen tahunan. Meski laba bersih tahun 2025 tercatat turun 49,33% secara tahunan menjadi US$70,61 juta, perseroan tetap menjaga arus kas positif untuk mendukung kewajiban imbal hasil.
"Kami berkomitmen terus untuk dapat membagikan dividen kepada pemegang saham," imbuhnya Hans Manoe, Direktur ABMM.
Berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Rabu (29/4/2026), ABMM menyepakati pembagian dividen tunai senilai US$15,5 juta atau sekitar Rp267,06 miliar. Selain dividen, perseroan mengalokasikan sisa laba bersih tahun buku 2025 sebagai laba ditahan guna membiayai kebutuhan ekspansi dan operasional mendatang.
Laporan keuangan akhir 2025 menunjukkan total aset ABMM berada di level US$2,05 miliar dengan posisi kas yang menguat sebesar 17,15% mencapai US$199,52 juta. Peningkatan likuiditas ini menjadi fondasi bagi manajemen untuk tetap fleksibel dalam mengambil peluang akuisisi aset baru yang signifikan di masa depan.