Waspada Modus Baru 2026: Hacker Gunakan QR Code Teks untuk Bobol Email

Waspada Modus Baru 2026: Hacker Gunakan QR Code Teks untuk Bobol Email
Foto: Waspada Modus Baru 2026: Hacker Gunakan QR Code Teks untuk Bobol Email. (Illustration by Pexels)

Para ahli keamanan dari Kaspersky menemukan tren serangan siber baru yang memanfaatkan grafik ASCII untuk membuat kode QR palsu. Teknik ini sengaja digunakan untuk mengecoh sistem penyaring email yang biasanya hanya memindai gambar atau tautan mencurigakan.

Sepanjang paruh kedua tahun 2025, serangan berbasis kode QR atau quishing dilaporkan meningkat hingga lima kali lipat. Temuan ini menjadi peringatan serius karena metode tersebut mampu menembus sistem keamanan email perusahaan yang paling mutakhir sekalipun.

Mengenal Teknik Quishing Berbasis Teks ASCII

Berbeda dengan kode QR pada umumnya yang berbentuk file gambar seperti JPG atau PNG, peretas kini beralih menggunakan karakter teks dan simbol Unicode. Struktur kode QR ini disusun sedemikian rupa menggunakan seni grafik ASCII agar tetap bisa dipindai oleh kamera ponsel.

Karena formatnya berupa teks biasa, banyak solusi keamanan email gagal mendeteksi ancaman ini sebagai objek berbahaya. Akibatnya, pesan penipuan tersebut dapat mendarat langsung di kotak masuk utama karyawan tanpa peringatan keamanan sama sekali.

Berikut adalah ringkasan perbedaan antara kode QR konvensional dan metode terbaru ini:

Fitur Kode QR Gambar (Lama) Kode QR ASCII (Baru)
Format File JPG, PNG, atau GIF Teks murni atau simbol Unicode
Deteksi Keamanan Mudah dipindai oleh filter gambar Sering dianggap teks biasa dan lolos filter
Tujuan Utama Akses informasi cepat Melewati (bypassing) sistem keamanan

Tabel di atas menunjukkan bagaimana peretas mengubah strategi mereka dari berbasis visual menjadi berbasis data tekstual. Perubahan ini menuntut kewaspadaan lebih tinggi dari pengguna saat berinteraksi dengan pesan yang mencurigakan.

Modus Operandi dan Target Serangan

Dalam menjalankan aksinya, pelaku biasanya mengirimkan email yang menyamar sebagai mitra bisnis atau layanan resmi seperti DocuSign. Mereka menyertakan pesan mendesak tentang adanya dokumen rahasia yang memerlukan tanda tangan segera dari korban.

Alih-alih memberikan lampiran dokumen, email tersebut meminta target memindai kode QR berbasis teks yang tersedia di badan email. Setelah dipindai, korban diarahkan ke situs web palsu yang dirancang sangat mirip dengan halaman masuk (login) perusahaan asli.

Pakar Anti-Spam di Kaspersky, Roman Dedenok, mengungkapkan bahwa teknik ini murni bertujuan untuk menghindari sistem pemindaian tautan. Ia menyebutkan bahwa setelah sebelumnya bersembunyi di balik gambar, kini peretas kembali ke format teks untuk mengelabui proteksi siber.

Langkah pencegahan yang disarankan oleh pakar keamanan siber meliputi:

  • Selalu waspada terhadap email yang meminta Anda memindai kode QR untuk mengakses dokumen penting.
  • Periksa kembali alamat email pengirim untuk memastikan keaslian sumber pesan sebelum bertindak.
  • Jangan pernah memasukkan kredensial login perusahaan pada halaman web yang terbuka melalui hasil pemindaian kode QR.
  • Gunakan solusi keamanan seluler yang mampu mendeteksi URL berbahaya secara real-time.

Dedenok menegaskan bahwa kode QR yang terbuat dari karakter teks hampir selalu merupakan indikasi kuat dari upaya phishing. Setiap pengguna perangkat seluler dihimbau untuk segera melaporkan jika menemukan format serupa di lingkungan kerja mereka.

Kewaspadaan pengguna tetap menjadi garda terdepan dalam menghadapi ancaman yang terus berevolusi ini. Dengan memahami trik manipulasi grafik ASCII, karyawan diharapkan dapat melindungi data sensitif perusahaan dari pencurian oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Artikel terkait

Rekomendasi