Kesadaran mengenai keamanan sistem kelistrikan di dalam hunian sering kali terabaikan di tengah padatnya aktivitas domestik. Padahal, peran listrik sangat krusial dalam mendukung kenyamanan rumah modern, mulai dari pendingin udara hingga peralatan dapur.
Dilansir dari Lifestyle, momentum Hari Kartini menjadi pengingat bagi para ibu untuk lebih peka terhadap risiko kebocoran arus listrik. Peran strategis perempuan kini mencakup perlindungan kualitas hidup dan keselamatan anggota keluarga dari ancaman yang tidak terlihat.
Berbeda dengan hubungan arus pendek atau korsleting yang memicu percikan api, kebocoran arus listrik sering kali tidak kasat mata. Kondisi ini biasanya dipicu oleh instalasi yang lembap, kabel rusak, atau penurunan kualitas isolasi pada peralatan elektronik.
Arus bocor berisiko mengalir ke permukaan logam pada peralatan rumah tangga yang sering disentuh manusia. Hal ini sangat berbahaya bagi anak-anak yang aktif bergerak, karena sentuhan pada benda berarus dapat menyebabkan sengatan listrik yang fatal.
Pengalaman tragis hampir dialami oleh Hanum Lily Rahma (30), seorang ibu sekaligus kreator konten, pada Oktober 2025. Saat hendak memandikan anaknya, tubuh bagian kanan Hanum tiba-tiba kaku dan pandangannya menggelap akibat sengatan listrik dari selang shower.
"Tubuh bagian kanannya tiba-tiba kaku tak bisa digerakkan ketika memegang selang hand shower. Pandangannya gelap. Ia pun merasa maut begitu dekat," tulis laporan tersebut mengenai kejadian yang menimpa Hanum.
Hanum berhasil selamat setelah berjuang melepaskan diri menggunakan sisi kiri tubuhnya. Setelah diperiksa, ternyata arus bocor telah mengalir ke shower di tiga kamar mandi berbeda di rumahnya tanpa pernah terdeteksi sebelumnya.
Keterbatasan MCB dalam Proteksi
Banyak pemilik rumah menganggap Miniature Circuit Breaker (MCB) sudah cukup menjamin keamanan. Namun, fungsi utama MCB sebenarnya hanya memutus aliran saat terjadi beban berlebih atau korsleting, bukan mendeteksi kebocoran arus skala kecil.
Data dari Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM pada 2025 menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Dari 1.000 instalasi yang diperiksa, sebanyak 7 persen masuk kategori rawan dan 9 persen kategori sangat rawan memicu kebakaran.
Statistik tahun 2024 hingga 2025 juga mengungkap bahwa bangunan rumah tinggal menjadi objek yang paling sering mengalami kebakaran. Mayoritas insiden tersebut, yakni sekitar 61,12 persen dari 1.969 kejadian, diduga kuat dipicu oleh masalah arus listrik.
Solusi Perlindungan dengan GPAS
Guna menutupi celah keamanan pada MCB, penggunaan Gawai Proteksi Arus Sisa (GPAS) atau ground fault protection sangat disarankan. Alat ini bekerja dengan mendeteksi selisih arus dan otomatis memutus aliran listrik dalam waktu singkat jika terjadi kebocoran.
Terdapat dua jenis GPAS yang umum tersedia di pasaran untuk kebutuhan rumah tangga. Pertama adalah Residual Current Circuit Breaker (RCCB) yang fokus mendeteksi arus bocor, dan kedua adalah RCBO yang menggabungkan fungsi RCCB dengan MCB.
Pemasangan perangkat tambahan ini harus dilakukan oleh teknisi listrik bersertifikat untuk memastikan fungsinya sesuai standar keselamatan. Langkah ini menjadi investasi jangka panjang untuk melindungi nyawa penghuni rumah dari risiko sengatan listrik.
Selain pemasangan alat, tindakan preventif seperti tidak menumpuk colokan listrik dan rutin mengecek kondisi kabel sangat dianjurkan. Literasi mengenai keamanan rumah kini menjadi tanggung jawab bersama untuk menciptakan ruang tinggal yang benar-benar aman.