Sebuah bangunan unik yang menyerupai bus tingkat mendadak viral di Dusun Tandan, Desa Kopen, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri. Hunian nyeleneh tersebut merupakan milik Supardi (43), warga setempat yang mendesain rumah pribadinya agar tampak berbeda dari bangunan pada umumnya.
Dilansir dari Kompas, rumah dengan konsep bus antarkota antarprovinsi (AKAP) ini menarik perhatian banyak warga dari luar daerah. Dalam sepekan terakhir, banyak orang sengaja berkunjung ke lokasi untuk melihat langsung detail bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 90 meter persegi tersebut.
Proses pembangunan hunian berbentuk bus ini dimulai pada Februari 2026 yang bertepatan dengan awal bulan Ramadan. Supardi mengaku sengaja memilih desain tersebut agar lingkungannya memiliki daya tarik tersendiri sekaligus sebagai bentuk kreativitas pribadinya.
Pria yang akrab disapa Bagong ini menceritakan bahwa pada awalnya proses pembangunan tersebut sempat mendapat cibiran dari warga sekitar. Ketidaklaziman bentuk fondasi dan struktur awal membuat para tetangga merasa heran dengan rencana bangunan tersebut.
"Dari awal dari geser tanah (banyak warga yang heran), kalau tanah kan rata-rata rumah itu kan digeser rata ya kan mas. Rata dulu baru kasih fondasi," tutur Supardi saat menceritan proses awal pembangunan, saat ditemui di rumahnya, Kamis (24/4/2026).
"Nah Kalau ini kan dulu geser tanah itu ada yang naik, ada yang turun (tidak diratakan semua). Jadi dilihat itu enggak jelas gitu loh ya. Makanya tetangga, bahkan saudara tanya, itu mau bikin apa. Semua warga pada heran, maksudnya mau bikin apa, kok gesernya (bangun pondasinya) kayak begitu," kata dia lagi.
Namun, pandangan miring tersebut perlahan berubah menjadi dukungan setelah dinding bangunan selesai dikerjakan. Bentuk kotak khas bus AKAP yang mulai terlihat jelas membuat warga mulai memahami konsep yang diusung oleh Supardi.
"Ah masa bikin rumah kayak begitu," ucap Supardi menirukan cibiran sebagian warga dusun yang menanyakan rumah yang dikerjakannya itu.
"Tapi setelah jadi begini, baru pada ngerti, oh jadinya begini, awalnya heran semua, sekarang tetangga-tetangga lingkungan itu semua pada mendukung, terutama saudara itu, mendukung banget. Alhamdulillah dengan semangat lingkungan juga kadang sering warga membantu pekerjaan ini," tambahnya.
Spesifikasi dan Detail Bangunan
Pembangunan struktur utama rumah ini memakan waktu sekitar enam minggu dengan melibatkan enam orang pekerja. Supardi yang memiliki pengalaman puluhan tahun sebagai tukang bangunan di Jakarta bertindak langsung sebagai perancang sekaligus mandor proyek tersebut.
Bangunan utama memiliki dimensi lebar sekitar 4 meter, tinggi 5 meter, dan panjang mencapai 13 meter. Desain interior difokuskan pada aspek pencahayaan alami melalui deretan jendela di kedua sisi bangunan agar ruangan tetap terang tanpa banyak lampu.
Selain pencahayaan, aspek sirkulasi udara menjadi prioritas dengan penempatan pintu di bagian depan dan belakang serta plafon yang tinggi. Bagian bawah difungsikan sebagai ruang tamu dan keluarga, sementara di lantai atas terdapat area mezanin yang digunakan sebagai kamar kecil.
"Saya yang gambar sendiri, bikin rancangan sendiri, terus pula-pula struktur itu juga saya sendiri. Jadi sampai jadi kayak begini tuh ide saya sendiri. Tidak ada arsitek, semua ide saya," kata Supardi.
Meskipun sudah bisa ditempati, Supardi mengakui bahwa rumah tersebut belum sepenuhnya rampung karena keterbatasan dana. Saat ini, ia telah merogoh kocek hingga Rp 125 juta untuk mencapai tahap pembangunan sekarang.
"Ini mulai proyek Februari, saya kerjakan selama 6 minggu 6 orang, mau Lebaran selesai seperti ini. Tapi uang sudah habis. Total untuk membangun sampai tahap ini sekitar Rp 125 juta. Masih kurang (uang) antara Rp 70 juta sampai Rp 100 juta lagi supaya selesai semua," pungkas Supardi.