Raksasa ritel asal Amerika Serikat, Walmart, dikabarkan tengah melakukan langkah besar dengan memangkas atau merelokasi sekitar 1.000 karyawan korporatnya. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya restrukturisasi besar-besaran pada divisi teknologi dan tim kecerdasan buatan (AI) perusahaan.
Dikutip dari Sosok, langkah strategis ini bertujuan untuk menyatukan tim teknologi global serta produk AI agar operasional perusahaan dapat berjalan lebih efisien. Walmart berupaya memperkuat posisinya di tengah persaingan ketat dengan kompetitor utama seperti Amazon dan Costco.
Sejumlah karyawan yang terdampak dilaporkan diminta untuk pindah ke kantor pusat Walmart di Bentonville, Arkansas, atau ke wilayah California Utara. Meski demikian, pihak perusahaan masih memberikan kesempatan bagi pegawai yang terkena dampak untuk melamar posisi lain yang tersedia di dalam internal perusahaan.
Proses restrukturisasi ini berada di bawah kendali langsung Kepala AI Global, Daniel Danker, serta Chief Technology Officer (CTO) Walmart, Suresh Kumar. Di bawah kepemimpinan CEO John Furner, Walmart memang sedang memacu transformasi digital berbasis kecerdasan buatan secara agresif.
Pada tahun 2025, Walmart telah meluncurkan berbagai fitur "super agent" berbasis AI. Teknologi ini dirancang untuk membantu mempermudah pengalaman belanja konsumen sekaligus mengoptimalkan efisiensi kerja di balik layar perusahaan.
Upaya ini dilakukan untuk mengejar ketertinggalan dari Amazon yang sebelumnya sudah merilis Rufus, sebuah chatbot belanja berbasis AI generatif. Walmart juga menunjukkan sikap waspada terhadap kondisi ekonomi setelah memberikan proyeksi bisnis yang hati-hati akibat ketidakstabilan daya beli konsumen di Amerika Serikat.
Profil John Furner dan Dinasti Walton
John Furner saat ini menjabat sebagai CEO Walmart U.S., yang merupakan divisi terbesar perusahaan dengan kendali atas ribuan toko di seluruh Amerika Serikat. Pria yang lahir pada tahun 1974 ini memiliki rekam jejak panjang di perusahaan, memulai kariernya sebagai pekerja paruh waktu di sebuah cabang Arkansas pada 1993.
Sebelum menduduki kursi pimpinan divisi utama pada 2019, Furner sempat memimpin SamÔÇÖs Club, jaringan ritel grosir milik Walmart. Fokus utamanya saat ini adalah memperkuat layanan belanja daring dan teknologi digital guna menghadapi dominasi pasar e-commerce.
Secara kepemilikan, Walmart masih berada di bawah kendali keluarga Walton yang mendirikan perusahaan ini pada 1962 melalui Sam Walton. Hingga saat ini, keluarga Walton merupakan salah satu dinasti terkaya di dunia dengan kepemilikan saham sekitar 45 persen.
Tiga anggota keluarga Walton tercatat masuk dalam daftar orang terkaya dunia versi Forbes 2026. Rob Walton memiliki kekayaan sekitar US$144 miliar, Jim Walton sebesar US$146 miliar, dan Alice Walton yang melampaui US$140 miliar. Jika digabungkan, total kekayaan keluarga ini diperkirakan mencapai lebih dari US$400 miliar atau setara Rp6.500 triliun.